Tampilkan postingan dengan label ISRA MIRAJ. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ISRA MIRAJ. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Juli 2010

MENYIBAK MAKNA ISRA DAN MI'RAJ

Oleh Nasaruddin Umar

Peristiwa Isra Mi'raj adalah perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha yang sangat dramatik dan fantastik. Dalam tempo singkat-kurang dari semalam (minal lail)-tetapi Nabi berhasil menembus lapisan-lapisan spiritual yang amat jauh bahkan hingga ke puncak (Sidratil Muntaha).

Walaupun terjadi dalam sekejap, tetapi memori Rasulullah SAW berhasil menyalin pengalaman spiritual yang amat padat di sana. Kalau dikumpulkan seluruh hadis Isra Mi'raj (baik sahih maupun tidak), maka tidak cukup sehari-semalam untuk menceritakannya. Mulai dari perjalanan horizontalnya (ke Masjid Aqsha) sampai perjalanan vertikalnya (ke Sidratil Muntaha). Pengalaman dan pemandangan dari langit pertama hingga langit ketujuh dan sampai ke puncak Sidratil Muntaha.

Ada pertanyaan yang mengusik. Mengapa Allah SWT memperjalankan hambanya di malam hari (lailan), bukan di siang hari (naharan)? "Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS al-Isra [17]: 1).

Dalam bahasa Arab kata lailah mempunyai beberapa makna. Ada makna literal berarti malam, lawan dari siang. Ada makna alegoris (majaz) seperti gelap atau kegelapan, kesunyian, keheningan, dan kesyahduan; serta ada makna anagogis (spiritual) seperti kekhusyukan (khusyu'), kepasrahan (tawakkal), kedekatan (taqarrub) kepada Allah.

Dalam syair-syair klasik Arab, ungkapan lailah lebih banyak digunakan makna alegoris ketimbang makna literalnya. Seperti ungkapan syair seorang pengantin baru: "Ya lalila thul, ya shubhi qif" (wahai malam bertambah panjanglah, wahai Subuh berhentilah). Kata lailah di dalam bait itu berarti kesyahduan, keindahan, kenikmatan, dan kehangatan; sebagaimana dirasakan oleh para pengantin baru yang menyesali pendeknya malam.

Di dalam syair-syair sufistik orang bijak (hukama) juga lebih banyak menekankan makna anagogis kata lailah. Para sufi lebih banyak menghabiskan waktu malamnya untuk mendaki (taraqqi) menuju Tuhan. Mereka berterima kasih kepada lailah (malam) yang selalu menemani kesendirian mereka. Perhatikan ungkapan Imam Syafii: Man thalabal ula syahiral layali (barangsiapa yang mendambakan martabat utama banyaklah berjaga di waktu malam), bukan sekadar berjaga. Kata al-layali di sini berarti keakraban dan kerinduan antara hamba dan Tuhannya.

Arti lailah dalam ayat pertama surah al-Isra di atas menunjukkan makna anagogis, yang lebih menekankan aspek kekuatan spiritual malam (the power of night). Kekuatan emosional-spiritual malam hari yang dialami Rasulullah, dipicu oleh suasana sedih yang sangat mendalam, karena sang istri, Khadijah, dan sekaligus pelindungnya telah pergi untuk selama-lamanya. Rasulullah memanfaatkan suasana duka di malam hari sebagai kekuatan untuk bermunajat kepada Allah SWT.

Kesedihan dan kepasrahan yang begitu memuncak membawa Rasulullah menembus batas-batas spiritual tertentu, bahkan sampai pada jenjang puncak yang bernama Sidratil Muntaha. Di sanalah Rasulullah di-install (diisi) dengan spirit luar biasa sehingga malaikat Jibril sebagai panglima para malaikat juga tidak sanggup menembus puncak batas spiritual tersebut.

Kehebatan malam hari juga digambarkan Tuhan di dalam Alquran: "Dan pada sebahagian malam hari shalat Tahajudlah kalian sebagai suatu ibadah tambahan bagi kalian: mudah-mudahan Tuhan kalian mengangkat kalian ke tempat yang terpuji. (QS al-Isra [17]: 79).

"Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah)." (QS al-Dzariyat [51]: 17).

Kata lailah dalam ketiga ayat di atas, mengisyaratkan malam sebagai rahasia untuk mencapai ketinggian dan martabat utama di sisi Allah SWT di malam hari.

Ayat pertama (QS al-'Alaq [96]: 1-5) di turunkan di malam hari, ayat-ayat tersebut sekaligus menandai pelantikan Muhammad SAW sebagai Nabi di malam hari. Tidak lama kemudian turun ayat dalam surah Al-Muddatstsir yang menandai pelantikan Nabi Muhammad, sekaligus sebagai Rasul menurut kalangan ulama 'Ulumul Qur'an.

Peristiwa Isra dan Mi'raj, ketika seorang hamba mencapai puncak maksimum (sudrah al-muntaha) juga terjadi di malam hari. Yang tidak kalah pentingnya ialah lailah al-qadr khair min alf syahr (malam lailatul qadr lebih mulia dari seribu bulan), bukannya siang hari Ramadlan (nahar al-qadr).

Kecerdasan

Surah al-Isra [17] diapit oleh dua surah yang serasi yaitu al-Nahl [16] dan al-Kahfi [18]. Surah al-Nahl dianggap simbol kecerdasan intelektual, karena berkaitan dengan dunia keilmuan (kisah lebah). Surah al-Kahfi sebagai simbol surah kecerdasan spiritual, karena berkaitan dengan cerita keyakinan dan spiritualitas (kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa, Ashabul Kahfi dan Dzulqarnain).

Sedangkan surah Al-Isra sering dijadikan sebagai simbol kecerdasan emosional, karena di dalamnya diceritakan pengaruh kematangan emosional dan prestasi puncak seorang hamba. Itulah sebabnya, ketiga surah yang menempati pertengahan juz Alquran disebut dengan surah tiga serangkai, yaitu surah IQ, EQ, SQ.

Keutamaan di malam hari, juga banyak membuat anak manusia menjadi lebih sadar (insyaf) dari perbuatan masa lalu yang kelam dan hitam. Malam hari banyak menumpahkan air mata tobat para hamba yang menyadari akan kesalahannya. Malam hari paling tepat untuk dijadikan momentum menentukan cita-cita luhur.

Mungkin inilah salah satu keistimewaan pondok pesantren yang memanfaatkan malam hari untuk memperbaiki akhlak dan budi pekerti santrinya. Sementara di sekolah-sekolah umum, jarang sekali memanfaatkan malam hari untuk pembinaan budi pekerti. Padahal, Allah sudah mengisyaratkan bahwa pada umumnya shalat itu ditempatkan di malam hari. Hanya shalat Zhuhur dan Ashar di siang hari, selebihnya di malam hari (shalat Maghrib, Isya, Tahajjud, Witir, Tarawih, Fajr, Subuh). Ini isyarat bahwa pendekatan pribadi secara khusus kepada Tuhan lebih utama di malam hari.

Sebenarnya peristiwa Isra-Mi'raj mempunyai dua macam peristiwa. Pertama, perjalanan horizontal dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha. Dan kedua, perjalanan vertikal dari Masjid Aqsha ke Sidratil Muntaha. Perjalanan Isra mungkin masih bisa dideteksi dengan sains dan teknologi, tetapi perjalanan Mi'raj sama sekali di luar kemampuan otak pikiran manusia.

Perjalanan Mi'raj ini, juga masih diperdebatkan banyak ulama, apakah dengan fisik dan roh Rasulullah atau hanya rohaninya saja. Mayoritas ulama Suni memahami bahwa yang diperjalankan Tuhan ke Sidratil Muntaha ialah Nabi Muhammad SAW secara utuh, lahir dan batin. Sementara pendapat lain memahami hanya rohaninya saja.

Yang pasti, perjalanan singkat itu berhasil merekam berbagai pemandangan spiritual bagi Rasulullah SAW, dan hendaknya bisa dijadikan pelajaran dan hikmah bagi umat Islam. Sebab, perjalanan malam hari itu, telah membangkitkan semangat baru Rasulullah dalam menyebarkan dakwah Islam.

Minggu, 11 Juli 2010

isra mi'raj dan kepemimipinan

Isro’dan Mi’roj hanya dialami oleh Nabi Muhammad saw., sendiri. Selain utusan Allah ini tidak pernah dan akan mengalaminya. Namun jika peristiwa itu direnungkan secara mendalam, akan mendapatkan nilai-nilai kehidupan yang luar biasa, tidak terkecuali terkait dengan kepemimpinan.

Perjalanan isra’dan mi’raj dilakukan di malam hari, sehingga tidak diketahui oleh siapapun, baik tatkala menjelang berangkat, sedang di perjalanan, maupun ketika tiba. Baru sepulang dari perjalanan malam itu, Rasulullah mengkhabarkan kepada para sahabatnya. Kita tidak bisa bayangkan apa yang terjadi, misalnya jika perjalanan itu dilakukan di siang hari, apalagi sempat berpamitan, dan juga ketemu orang. Maka peristiwa itu tidak akan ada yang terasa aneh dan sakral.

Rupanya sesuatu yang aneh, sacral, dan menakjubkan itu selalu diperlukan bagi kehidupan masyarakat, ----kapan saja, termasuk di zaman Rasul. Hal yang aneh, sacral dan menakjubkan tersebut kemudian dijadikan perbincangan, wacana, atau discourse secara terus menerus. Ternyata sesuatu yang tidak mudah dicari jawabnya itu penting, sebagai penggerak masyarakat. Dengan wacana, discourse, atau isu yang tidak mudah dicari jawabnya itu ternyata menjadikan pikiran banyak orang tertantang.

Kejadian Isra’dan mi’raj merupakan kejadian yang memiliki nilai dan berjangkauan tinggi. Hal itu rupanya sengaja diciptakan oleh Allah, agar manusia tidak saja terbelenggu oleh persoalan-persoalan kecil, teknis, sederhana dan mudah dicari jawabnya, seperti misalnya hanya terkait masalah ekonomi, politik, ilmu, dan lain-lain.

Oleh karena itu, bagi orang yang mau memikirkan secara mendalam, isro’dan mi’roj memberikan inspirasi mendalam terhadap para pemimpin masyarakat, bahwa hendaknya mampu membuat wacara yang sulit dijangkau oleh mereka yang dipimpinnya. Dalam bahasa leadership, maka pemimpin harus sanggup membuat isu-isu strategis yang digunakan untuk menggerakkan banyak orang.

Pemimpin yang gagal merumuskan isu besar dan strategis, bisanya menjadikan para pengikutnya kebingungan. Mereka akan bertanya-tanya, akan dibawa kemana lembaganya. Jika hal itu terjadi maka artinya pemimpin lembaga tersebut telah gagal dalam kepemimpinanya. Pertanyaan semacam itu menggambarkan bahwa sang pemimpin tidak mampu merumuskan isu yang seharusnya dibuat.

Nabi Muhammad sebagai seorang rasul, yang bertugas memperbaiki masyarakat manusia sepanjang zaman, maka membutuhkan isu besar dan strategis yang mampu bertahan lama. Rupanya isu strategis itu di antaraya berupa isro’dan mi’roj, yang hingga kini tidak pernah berhenti didiskusikan, diperbincangkan, digali hikmahnya dari zaman ke zaman dan tidak pernah putus-putusnya.

Pada kenyataannya, memang banyak pemimpin yang tidak mampu merumuskan isu-isu besar dan strategis, hingga berhasil menggerakkan orang agar berpikir dan berbuat. Sementara pemimpin hanya mampu merumuskan isu yang sifatnya sederhana dan berjangka pendek, sehingga tidak melampaui cara berpikir mereka yang dipimpinnya. Sebagai akibatnya, pemimpin tersebut tidak diapresiasi dan tidak ada sesuatu yang menjadi sebab dikagumi darinya. Akibatnya ia tidak berwibawa, sehingga perintahnya tidak diikuti dan perilakunya tidak dijadikan referensi oleh para pengikutnya.

Sudah barang tentu, peristiwa isro’dan mi’roj bukan sebatas menjadi sumber inspirasi kepemimpinan masyarakat sebagaimana diuraikan di muka. Tetapi, isro’dan mi’roj semestinya juga ditangkap oleh para pemimpin pada tingkat dan jenis apapun, bahwa dalam menggerakkan mereka yang dipimpin selalu memerlukan isu-isu strategis yang tidak mudah terjangkau oleh mereka yang dipimpinnya.

Isu besar dan strategis dalam setiap kepemimpinan sangat penting untuk menggerakkan pikiran, daya nalar, perasaan bagi siapa saja yang sedang dipimpinnya. Selanjutnya, jika kita mau jujur sebenarnya bangsa ini juga sedang memerlukan isu besar dan strategis untuk menggerakkan warga negara secara keseluruhan. Isu besar dan strategis tersebut sementara ini, seolah-olah belum terpikirkan kegunaannya. Akibatnya, bangsa ini seakan-akan berjalan tanpa isu besar dan strategis, sehingga sehari-hari hanya sibuk dengan hal kekinian seperti pemberantasan korupsi, tabung gas elpiji, video porno, dan sejenisnya.

Semestinya para pemimpinan bangsa ini segera menciptakan isu strategis yang bersifat universal, bernilai dan berjangkauan tinggi, sehingga menjadi wacana, perbincangan discourse dan bahkan cita-cita bagi semuanya. Atas dasar wacana itu maka semua orang akan memperbincangkan, memikirkan, dan berusaha meraihnya. Oleh karena tidak ada isu yang luar biasa tersebut, maka banyak orang hanya terjebak pada persoalan sederhana dan teknis sebagaimana dikemukakan di muka.

Biasanya kehidupan yang tidak dituntun dan digerakkan oleh isu atau tema besar dan strategis, akan bagaikan orang hidup tanpa tujuan, orientasi atau cita-cita. Akibatnya hidup akan dirasakan menjadi terlalu lama. Dengan suasana seperti itu orang akan mencari pelarian untuk memuaskan diri. Bentuk pelarian itu macam-macam misalnya, menumpuk harta dengan cara korupsi. Isu atau tema besar dan strategis kapan dan di manapun selalu diperlukan. Maka dalam kepemimpinan selalu memerlukan isu besar dan strategis. Tuhan pun ternyata juga membuat isu besar, di antaranya berupa isra’mi’raj. Mestinya, bangsa ini juga mempunyainya, tetapi siapa yang harus membuat? Wallahu a’lam

Kamis, 08 Juli 2010

isra dan mi'raj

Setelah mengalami kesedihan luar biasa di tahun duka dimana orang-orang yang dicintai dan menyayangi beliau wafat, yakni Paman Abu Thalib yang selalu melindungi da’wah nabi dan isteri nabi tercinta Siti Khadijah, yang selalu mendukung dan memotivasi beliau dalam berda’wah, Allah memberikan beliau “pelipur duka” dan pemantap iman berupa perjalanan Isra’ dan Mi’raj. Peristiwa ini ditetapkan dalam Al Qur’an Surat Al Isra :1 :
PERISTIWA-PERISTIWA PENTING DALAM ISRA’ MI’RAJ
1.Pada malam 27 Rajab, malaikat Jibril dan Mikail mendatangi Rosulullah yang
sedang tertidur, lalu membawa beliau ke telaga Zam-Zam dan kemudian
membedah dada Nabi Muhammad SAW untuk membersihkan segala
kotoran hati dan menggantinya dengan iman, ilmu,dan hikmah serta
membubuhkan cap kenabian di pundak Nabi.
2.Nabi melakukan perjalanan ke Masjidil Aqsho dengan Buroq, yang

berasal dari kataBarqun yang berarti kilat. Dalam perjalanan, atas petunjuk JIbril, Nabi sholat di beberapa tempat, yakni Madinah (kota rosul),Madyan (tempat Nabi Su’aib berdakwah dan tempat Nabi Musa berteduh di bawah pohon saat dikejar Fir’aun, Thursina (tempat Nabi Musa berdialog dengan Allah SWT) dan Baithlehem (kota kelahiran Nabi Isa)
3.Nabi mengimami para Nabi terdahulu sholat dua rakaat di Masjidil Aqsho
4.Nabi memilih minuman berisi SUSU dan meninggalkan Arak (Khamer)
saat disajikan pilihan berupa kedua minuman tersebut seusai keluar dari
Masjid. Melihat pilihan nabi yang memilih susu, Jibril berkata “Engkau telah
memilih Fitrah” (sifat asal manusia yang suci bersih dari dosa), Jika kamu
mengambil khamer, maka sesatlah umatmu.
5.Dalam perjalanan menuju Sidrotul Muntaha, Nabi bertemu dengan Nabi-
Nabi terdahulu. Beliau bertemu Nabi Adam as di langit pertama, Nabi Isa,

Nabi Yahya as dan Nabi Zakaria as di langit kedua, Nabi Yusuf as di langit ketiga, Nabi Idris as di langit keempat (ada yang mengatakan bertemu Nabi Nuh), Nabi Harun di langit kelima, Nabi Musa as di langit keenam. Di langit ke tujuh Nabi Muhammad SAW bertemu nabi Ibrahim as serta melihat Baitul Makmur, yakni tempat yang dimasuki oleh 70.000 malaikat tanpa keluar lagi.
6.Rosolullah menerima perintah sholat 5 waktu. Jumlah 5 waktu ini

awalnya adalah 50 waktu sehari semalam. Atas nasehat Nabi Musa as bahwa umat Nabi Muhammad tidak akan mampu karena umat Nabi Musa as yang berbadan tegap dan kuat juga tidak mampu melaksanakannya, Nabi meminta pengurangan kepada Allah. Proses ini berlangsung beberapa kali hingga perintah sholat hanya menjadi 5 waktu dalam sehari semalam..
7.Dalam perjalanan Mi’roj Nabi melihat dan mendengar secara langsung
beberapa peristiwa yang dapat dijadikan pelajaran bagi umat Islam, yakni :
a.Nabi bertemu dengan sekelompok manusia yang menanam dan menuai
hasilnya pada saat itu juga. Jibril menerangkan, begitulah keadaan orang-
orang yang berbuat dan beramal baik semasa hidupnya.
b.Nabi mencium bau harum. Jibril menerangkan bahwa bau itu milik
Masyithoh yang teguh imannya
c.Nabi melihat orang yang menghempaskan kepalanya ke batu. Jibril
menerangkan, bahwa begitulah keadaan orang-orang yang semasa hidupnya
berat untuk melaksanakan sholat
d.Nabi melihat orang yang hanya memakai celana dalam, memakan buah
berduri, dan menelan api neraka jahanam beserta batu-batunya. Jibril
menerangkan mereka adalah orang yang semasa hidupnya tidak mau
membayar zakat
e.Nabi melihat orang memakan daging mentah busuk, sedangkan ada

daging bagus dan masak di sampingnya. Jibril menjelaskan mereka adalah orang yang semasa hidupnya senang berzina padahal telah memiliki isteri yang sah.
f.Nabi melihat wanita-wanita yang buah dadanya tergantung sambil
mengerang kesakitan. Mereka adalah wanita yang semasa hidupnya
menyusui anak hasil hubungan gelapnya dengan orang laintanpa
diketahui suaminya yang sah.
g.Nabi melihat orang yang berenang di sungai darah, serta dilempari
orang dengan batu. Mereka adalah yang semasa hidupnya memakan riba,
yakni renternir atau lintah darat
h.Nabi melihat orang yang berbibir seperti unta, disuapi dengan bara api.
Mereka adalah orang-orang yang sewaktu di dunia memakan harta anak
yatim dengan jalan tidak sah.
i.Nabi melihat orang menggunting lidahnya sendiri dengan gunting besi.
Mereka adalah orang yang semasa hidupnya pandai berpidatomengajak
orang berbuat baik, tetapi dia sendiri tidak mengerjakannya.
j.Nabi melihat orang berkuku tembaga merobek-robek muka dan dadanya

sendiri. Mereka adalah orang semasa hidupnya suka mengumpat, atau senang menggunjing (rasan-rasan), atau gemar membeberkan aib (kekurangan/kesalahan) orang lain.

MARI BERSAMA-SAMA MEMPERBAIKI IMAN dan KETAQWAAN KITA
kepada ALLAH SWT serta MENAMBAH KECINTAAN KITA
kepada NABI MUHAMMAD SAW
Wabillaahit taufiq wal Hidayah

Senin, 05 Juli 2010

ISRA' MI'RAJ

dakwatuna.com – Aisyah r.a. -seperti yang diriwayatkan dalah Shahih Bukhari-berkata, awal permulaan wahyu kepada Rasulullah saw. adalah mimpi yang benar. Beliau tidak melihat sesuatu mimpi, kecuali mimpi tersebut datang seperti cahaya subuh. Kemudian beliau menyendiri di Gua Hira untuk beribadah beberapa malam sebelum kembali ke keluarganya dan mengambil bekal untuk kegiatannya itu sampai beliau dikejutkan oleh kedatangan Malaikat Jibril pada saat berada di Gua Hira.

Malaikat Jibril mendatangi beliau dan berkata, “Bacalah!” Rasulullah saw. menjawab, “Saya tidak dapat membaca.” Beliau mengatakan, lal malaikat itu memegang dan mendekapku sampai aku merasa lelah. Kemudian ia melepaskanku dan megnatakan, “Bacalah!” Aku menjawab, “Aku tidak dapat membaca!’ Malaikan itu mengulanginya untuk yang ketiga sambil mengatakan, “Iqra’ bismi rabbikal ladzii khalaq; bacalah, dengann menyebut nama Rabbmu yang menciptakan.” (Al-’Alaq: 1)

Kemudian Rasulullah saw. pulang. Kepada isterinya, Khadijah, beliau berkata, “Selimuti aku, selimuti aku.” Lalu beliau diselimuti sampai rasa keterkejutannya hilang. Kemudian beliau menceritakan apa yang terjadi kepada Khadijah. “Aku Khawatir terhadap diriku.” Khadijah menjawab, “Tidak. Demi Allah, sama sekali Dia tidak akan menghinakanmu selamanya. Sebab, engkau orang yang mempererat tali persaudaraan dan memikul beban orang lain. Engkau orang yang menghormati tamu, membantu orang yang susah, dan membela orang-orang yang berdiri di atas kebenaran.”

Kemudian Khadijah pergi bersama Nabi saw. menemui sepupunya, Waraqah bin Naufal. Waraqah pernah menulis kitab Injil berbahasa Ibrani. Khadijah berkata, “Wahai anak pamanku, dengarlah apa yang dikatakan oleh anak saudarmu.” Waraqah bertanya dan ketika Rasulullah saw. menceritakan peristiwa yang dialaminya, ia berkata, “Itu adalah Namus (Jibril) yang pernah diutus Allah swt. kepada Nabi Musa a.s. Alangkah bahagianya seandainya aku masih muda perkasa. Alangkah gembiranya seandainya aku masih hidup tatkala kamu diusir oleh kaummu.”

Rasulullah saw. bertanya, “Apakah mereka akan mengusirku?” Waraqah menjawab, “Ya. Tidak seorang pun yang datang membawa seperti yang kamu bawa kecuali akan diperangi. Seandainya kelak aku masih hidup dan mengalami hari yang kamu hadapi itu pasti aku akan membantumu sekuat tenagaku.”

Setelah itu, selama tiga tahun lamanya Rasulullah saw. berdakwah secara rahasia. Hingga kemudian turun surat Al-Hijr ayat 94 yang memerintahkan Rasulullah saw. agar berdakwah secara terang-terangan. “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musryik.”

Berdakwah secara terang-terangan

Rasulullah saw. pun menjalankan perintah itu. Berdakwah secara terang-terangan selama 10 tahun. Terutama di musim-musin haji. Beliau mendatangi orang-orang dari rumah ke rumah. Berdakwah di Pasar ‘Ukkadz, Majannah, dan Dzul-Majaz. Beliau mengajak orang banyak untuk memeluk Islam dan menawarkan surga sebagai imbalan. Beliau sampaikan seluruh risalah Allah swt. yang sampai kepadanya ketika itu. Namun, tidak banyak yang mau menyambut ajakannya.

Bahkan Rasulullah saw. menemui banyak rintangan. Berbagai macam siksaan yang menyulitkan langkah dakwahnya datang dari masyarakat Mekkah. Tidak sedikit orang menuduh beliau sebagai orang gila, tukang sihir, atau dukun.

Hijrah ke Habasyah

Pada tahun ke-5 kenabian, Rasulullah saw. memerintahkan para sahabatnya hijrah ke Habasyah (sekarang Ethiopia). Keputusan ini diambil karena siksaan yang dilakukan masyarakat Quraisy terhadap kaum muslimin ketika itu semakin gencar. Rasulullah saw. memilih Habasyah karena, “Di sana terdapat seorang pemimpin yang tidak aniaya terhadap siapa pun yang ada di dekatnya.”

Rombongan sahabat Rasulullah saw. yang hijrah pertama kali ini terdiri atas 12 orang pria dan 4 orang wanita. Rasulullah saw. menunjuk Utsman bin Affan sebagai amir kafilah hijrah ini.

Hijrah kedua ke Habasyah

Tak lama kemudian Hamzah bin Abdul Muthallib dan Umar bin Khaththab masuk Islam. Kabar ini sampai ke telinga para sahabat yang hijrah di Habasyah. Mereka tahu betul bahwa Hamzah dan Umar adalah sosok yang punya karakter, berani, dan perkasa. Karena itu mereka yakin bahwa dengan masuknya kedua orang itu kaum muslimin di Mekkah akan menjadi kuat. Karena itu, para muhajirin itu memutuskan untuk kembali pulang ke Mekkah.

Namun, tatkala sampai ke Mekkah mereka mendapati tidak seluruh kaum muslimin terbebas dari siksaan kaum Quraisy. Terutama mereka-mereka yang tidak mendapatkan jaminan keselamatan dari tokoh-tokoh Quraisy terpandang. Ketika siksaan dari kaum Quraisy sampai pada titik puncak yang tak bisa ditanggung lagi oleh kaum muslimin yang lemah, Rasulullah saw. mengizinkan mereka kembali hijrah ke Habasyah.

Hijrah yang kedua kalinya ini dilakukan oleh 83 orang pria dan 19 orang wanita. Kaum musyrikin Quraisy mengutus Amr bin Al-’Ash dan ‘Ammarah bin Al-Walid menemui Najasyi, Raja Habasyah. Mereka membawa berbagai hadiah. Mereka meminta Najasyi mengekstradisi kaum muslimin lari dari Mekkah. Namun Najasyi menolak sebelum mendengar langsung perkara yang sebenarnya dari pihak kaum muslimin.

Ja’far bin Abu Thalib r.a. tampil menjadi juru bicara kaum muslimin. Ia menjelaskan keadaan mereka ketika di masa jahiliyah dan bagaimana mereka berubah ketika menerima Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw. Hidayah itu telah mengubah diri mereka menjadi pribadi yang berakhlak mulia. Ja’far juga memperdengarkan beberapa ayat Al-Qur’an kepada Raja Najasyi, yaitu awal surat Maryam. Ayat itu berisi padangan Islam tentang Isa bin Maryam a.s. Isa adalah seorang hamba Allah dan Rasul-Nya. Mendengar keterangan itu, Najasyi memutuskan mengembalikan semua hadiah kaum musyrikin Quraisy dan memuliakan kaum muslimin sebagai tamu di negerinya.

Berbagai jenis siksaan yang menimpa Rasulullah saw. dan sahabatnya

Ada dua alasan mengapa kaum Quraisy tidak mau menerima dakwah Rasulullah saw. padahal mereka tahu betul akan kepribadian Rasulullah saw. yang tidak pernah berdusta. Bahkan mereka sendiri menggelari Rasulullah saw. dengan sebutan Al-Amin (orang yang terpercaya).

Alasan pertama, ritual penyembahan mereka kepada berhala adalah tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Karena itu, Islam dipandang sebagai ajaran yang mengancam tradisi leluhur yang harus mereka pertahankan. Alasan kedua, kaum Quraisy secara turun temurun punya kedudukan tinggi di masyarakat Mekkah. Mereka mengurus jamaah haji, memegang kunci Ka’bah, dan menguasai sumur Zamzam. Kedatangan Islam akan menggeser hak istimewa mereka itu. Karena itu, mereka menolak dakwah Rasulullah saw.

Mereka berusaha menghentikan dakwah Rasulullah saw. Mereka menawarkan tiga hal -harta, tahta, dan wanita-kepada Rasulullah saw. agar berhenti mendakwahkan Islam. Rasulullah saw. menolak. Bahkan Rasulullah saw. menawarkan, “Ucapkanlah laa ilaaha illallah, niscaya kalian akan mengusai bangsa Arab.”

Cara “halus” tak berhasil. Mereka menebar teror dengan siksaan terhadap Nabi dan kaum muslimin. Jika terhadap muslim yang memiliki kedudukan dan kehormatan dalam masyarakat, musyrikin Quraisy hanya menebar ancaman. Abu Jahal mengintimidasi seorang muslim golongan ini, “Engkau tinggalkan agama nenek moyangmu, padahal mereka lebih baik darimu. Kami akan rendahkan angan-anganmu. Kami akan lecehkan kehormatanmu. Akan kami rusak usahamu dan kami hancurkan hartamu.”

Terhadap kaum muslimin dari golongan lemah -apakah lemah secara ekonomi (fakir miskin atau lemah secara status sosial (budak)-musyrikin Quraisy tidak segan-segan menyiksa mereka. Bani Makhzum menyiksa keluarga Yasir. Yasin dan istrinya, Sumayyah, syahid dalam siksaan tersebut. Ammar bin Yasir memelas kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasul, siksaan kepada kami telah mencapai puncaknya.” Rasulullah saw. menghibur Ammar, “Bersabarlah, wahai Abul Yaqdzan. Bersabarlah, wahai keluarga Yasir. Balasan untuk kalian adalah surga.”

Kaum musyrikin juga menyeret Bilal bin Rabah ke tengah padang pasir di tengah hari. Mereka melempari tubuh telanjang Bilal dengan batu-batu yang terpanggang panas matahari. Kemudian menindih dada Bilal dengan batu besar. Mereka memerintahkan Bilal menyebut nama tuhan-tuhan mereka. Tapi Bilal menolak. Ia mengucap, “Ahad, Ahad….”

Bani Hasyim diboikot, Abu Thalib dan Khadijah wafat

Kaum musyrikin Quraisy mengirim utusan kepada Abu Thalib, paman Nabi, membawa penawaran: jika keponakannya menginginkan kerajaan, mereka siap mengangkatnya menjadi raja; jika menginginkan harta, mereka siap mengumpulkan harta sehingga tidak ada yang terkaya kecuali Nabi; jika Nabi terkena gangguan jin, mereka siap mencarikan obat untuk menyembuhkanya; asal Nabi berhenti mendakwahkan Islam.

Rasulullah saw. menolak tawaran itu. Kepada Abu Thalib, beliau berkata, “Demi Allah, jika mereka meletakkan matahai di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan meninggalkan (dakwah) ini, sampai Allah memenangkannya atau aku hancur karenanya.”

Mendengar jawaban itu, Abu Thalib berkata, “Teruskanlah urusanmu. Demi Allah, aku tidak akan menyerahkanmu selamanya.” Kemudian Abu Thalib mengumpulkan keluarga dekatnya untuk membela Rasulullah saw. Bani Hasyim dan Bani Muthallib datang, kecuali Abu Lahab.

Sementara Bani Hasyim dan Bani Muthallib -baik yang sudah beriman maupun yang masih musyrik– berkumpul untuk membela Rasulullah saw., kaum musyrikin juga berkumpul. Mereka sepakat untuk tidak melakukan jual-beli dan tidak memasuki rumah-rumah Bani Hasyim dan Bani Muthallib sebelum Rasulullah saw. diserahkan kepada mereka untuk dibunuh. Kesepakatan ini ditulis di sebuah spanduk dan di simpan di dalam Ka’bah.

Atas boikot tersebut, Abu Thalib memerintahkan kerabatnya untuk masuk ke dalam Syi’ib (lembah) dan berdiam di sama. Itulah awal tiga tahun masa boikot yang penuh derita dan guncangan.

Ternyata masih ada nurani di beberapa orang tokoh Quraisy. Hisyam bin Amr, Zuher bin Umayyah, Abul Kakhtari bin Hisyam, Zam’ah bin Al-Aswad, dan Muth’im bin ‘Adi bersepakat untuk membatalkan isi penjanjian musyrikin Quraisy. Sebelumnya Rasulullah saw. telah mengabarkan kepada pamannya, Abu Thalib, bahwa Allah telah mengutus rayap menghancurkan spanduk kesepakatan tersebut dan hanya menyisakan kalimat “Bismika Allahumma” (dengan nama-Mu, ya Allah).

Benar saja. Saat memasuki Ka’bah, Muth’im bin ‘Adi mendapati kondisi spanduk kesepakatan itu seperti yang diberitakan Rasulullah saw. Maka keluarlah Bani Hasyim dan Bani Muthallib dari Syi’ib. Mereka kembali berbaur bebas dengan masyarakat. Peristiwa ini terjadi di tahun ke-10 kenabian. Enam bulan setelah peristiwa ini, Abu Thalib wafat.

Rasulullah saw. bukan hanya kehilangan paman yang membelanya, tapi juga kehilangan isteri yang menjadi teman seperjuangan. Khadijah wafat di tahun yang sama dengan wafatnya Abu Thalib. Musibah yang beruntun terhadap diri Rasulullah saw. ini disebut ‘Amul Huzni (Tahun Kesedihan). ‘Amul Huzni terjadi selama 3 tahun sebelum perintah hijrah ke Madinah. Sebab, tiga tahun terakhir itu penindasan kaum Quraisy terhadap kaum muslimin dan upaya pembunuhan terhadap Rasulullah saw. demikian memuncak.

Isra’ dan Mi’raj

Di tengah himpitan musuh dan kehilangan pembela, Rasulullah saw. ditemani Jibril, diperjalankan oleh Allah swt. dari Mekkah ke Baitul Maqdis dengan mengendarai Buraq. Di Baitul Maqdis Rasulullah saw. shalat dan menjadi imam dengan makmum para nabi. Setelah itu, Nabi saw. naik ke langit dunia. Di sana beliau bertemu dengan Nabi Adam a.s. Di langit kedua bertemu dengan Nabi Isa dan Yahya a.s. Di langit ketiga bertemu Nabi Yusuf a.s. Di langit keempat Nabi Idris. Di langit kelima bertemua Nabi Harun. Di langit kelima bertemu dengan Nabi Musa a.s. Di langit ketujuh bertemu Nabi Ibrahim a.s. Kemudian Rasulullah saw. sampai di Sidratul Muntaha, lalu diangkat ke Baitul Ma’mur. Di sini Jibril terlihat dalam bentuknya yang asli.

Allah saw. telah berbicara dengan Rasulullah saw. dan memberi perintah wajibnya shalat 5 waktu. Sebelumnya perintah itu adalah 50 kali dalam sehari semalam. Tapi, setelah berdiskusi dengan Nabi Musa, Rasulullah saw. bolak-balik meminta keringanan kepada Allah swt.

Rasulullah saw. menceritakan tentang peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini kepada kaum muslimin dan penduduk Mekkah. Kaum musyrikin mendustakan, meski Rasulullah saw. mampu memberi bukti dengan menerangkan secara terperinci tentang Baitul Maqdis dan kafilah Quraisy yang tengah kembali dari Syam.

Hanya Abu Bakar orang yang tidak ragu dengan cerita Rasulullah saw. tersebut. Tak heran jika Rasulullah saw. memberinya gelar As-Shiddiq.