Rabu, 18 November 2009

MERAIH KEMULIAAN DI HARI QURBAN



الله اكبر (6) سبحان من جعل أول بيت وضع للناس للذى ببكة مباركا وهدى للعالمين، ورفع للمؤمنين علمابالتكبيروالتهليل والتحميد شعارا لهذا الدين، وجعل أعظم شعائره حج بيته الحرام بحرمه الأمين. سبحان رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين. أشهد ان لا إله إلاالله العزيز الرحيم وأشهد ان محمدا عبده ورسوله النبى الكريم. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد الرسول السند العظيم، وعلى أله وأصحابه الأبرار أجمعين. فيا أيها المخلصين، إتقوا الله واعلموا أن الله مع المتقين.

Allahu Akbar 6 x

Hari yang kita rayakan pada hari ini merupakan satu di antara dua hari raya besar umat Islam, yakni ‘Idul Adha di samping ‘Idul Fitri. Kedua hari raya ini mempunyai persamaan makna, yaitu hari pembebasan dan hari proklamasi, kembalinya seseorang kepada semangat kesucian. Kalau ‘Idul Fitri orang bisa kembali kepada kesucian setelah menjalani puasa sebulan penuh, maka ‘Idul Adha orang-orang juga berpeluang kembali kepada kesucian, khususnya bagi mereka yang menunaikan haji dengan mabrur. Mereka dilukiskan sebagai orang-orang yang kembali bagaikan bayi yang baru lahir tanpa dosa (ka yaumi waladathu ummuh). Dalam sebuah hadis disebutkan: Al-hajj al-mabrûr laisa lahû jaza’ illa al-jannah (haji mabrur tiada lain balasannya selain syurga) kata Rasulullah Saw. Dan, saya kira kemuliaan tersebut juga bisa diraih oleh kita semua yang tidak sempat menunaikan rukun Islam kelima itu pada hari qurban ini.

Allahu Akbar 3 x

Ibadah haji adalah ibadah tertua dalam sejarah umat manusia dan ka'bah adalah bangunan suci pertama di muka bumi ini.

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

Sesungguhnya rumah Allah yang mula-mula dibangun untuk [tempat beribadah] manusia, ialah Baitullah di Makkah yang diberkahi dan menjadi penunjuk bagi semua manusia (Ali ‘Imrân/3:96).

Dalam satu riwayat disebutkan, ketika Nabi Adam diusir dari surga ke bumi, ada satu hal yang paling ia sedihkan, yaitu ia tidak bisa lagi mengikuti ibadah para malaikat berthawaf mengelilingi ‘Arasy, yakni singgasana Allah Swt. Nabi Adam kemudian dihibur dengan dibangunnya Ka'bah sebagai Baitullah, miniatur atau tiruan 'Arasy di bumi, lalu Nabi Adam diperintahkan Allah berthawaf mengelilingi Ka'bah. Jadi, thawaf adalah cara ibadah menirukan malaikat mengelilingi 'Arasy dan ternyata seluruh makhluk makrokosmos di jagad raya seperti planet-planet juga melakukan "thawaf". Misalnya, bulan dan bumi berthawaf mengelilingi matahari dan matahari beserta seluruh familinya juga berthawaf mengelilingi pusat galaksi, yang oleh para astronom disebut Milky-way atau Galaksi Bimasakti. Mereka semua dengan setia menyembah kepada Allah Swt, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ

“Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar manusia bersujud kepada Allah? Dan, banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan, barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS.As-Sajadah/22:18).

Planet-planet yang ada di angkasa raya dengan tekun beredar di atas rel peredarannya. Sedikit saja planet-planet yang lazim disebut makrokosmos itu melenceng dari garis edarnya, maka akan menimbulkan perubahan komposisi kimia dalam oksigen dan selanjutnya akan berakibat fatal bagi kehidupan manusia.

Thawaf sebagai warisan dari Nabi Adam, selain menirukan cara beribadah para malaikat, juga menirukan perilaku alam raya. Ini semua membuktikan bahwa manusia sebagai partikel mikrokosmos, harus juga tunduk dan pasrah (islâm) dan konsisten (istiqâmah) kepada Khaliqnya. Seorang muslim yang ideal ialah selain menyatakan kepasrahan total kepada Tuhan, juga memancarkan nilai-nilai pencerahan di dalam kehidupan bermasyarakat.

Manusia pada dasarnya makhluk beragama (zoon religion), maka seseorang tidak mungkin menjadi kafir secara absolut. Betapapun besar kekufuran seseorang, pasti orang itu menyadari adanya ruang spiritual di dalam dirinya, yang sewaktu-waktu membutuhkan simbol-simbol suci untuk menyalurkan rasa keberagamaan itu.

Dalam siklus kehidupan sehari-hari, manusia senantiasa menjalankan fungsi-fungsi thawaf. Orang-orang yang berthawaf di atas rel yang benar, mereka itulah disebut orang-orang yang berjalan di atas jalan yang lurus, jalan yang penuh kenikmatan:

إِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ . صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

Orang-orang musyrik, atau orang-orang yang memiliki loyalitas dan penghambaan ganda kepada lebih dari satu obyek yang seharusnya disembah, sesungguhnya telah menempuh rel yang menyimpang dalam kehidupannya, sehingga Tuhan menggambarkannya dalam Surah al-Hajj:

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

“Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (QS. al-Hajj [22]: 31)

Orang-orang yang menyimpang dari sistem global yang telah ditetapkan Tuhan, mereka itulah disebut orang-orang yang sesat. Nurani (cahaya) dalam hati mereka akan padam lalu digantikan dengan hati dzulmani, hati yang gelap-gulita. Cermin batinnya yang buram sudah tidak mampu lagi menangkap nur, cahaya Ilahi. Mereka teralienasi oleh gemerlapnya kehidupan dunia. Orang-orang seperti ini sangat berpotensi untuk membenarkan segala cara dalam memenuhi segala keinginannya. Mereka tidak lagi tergetar hatinya dalam menyaksikan penderitaan kaum dhu'afâ’ yang semakin dha'îf, karena faham individualisme sedemikian merasuk ke dalam pikirannya. Orang-orang seperti ini sulit merasakan ketenangan dan ketenteraman hakiki, karena dalam jiwanya dipadati oleh nafsu penguasaan, yang pada akhirnya mereka merasa kelelahan karena tersedot oleh energinya sendiri. Dalam bahasa al-Qur'an dikatakan:

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ.

“Barangsiapa yang dikehendaki Allah untuk diberikan petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk Islam (berpasrah diri). Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS. al-An‘âm/6:125).

Allahu Akbar 3x

Raja Namrud disimbolkan sebagai sosok penguasa yang memiliki kekuasaan penuh. Ia sering berhadapan dengan Nabi Ibrahim, pembawa misi kemanusiaan. Raja Namrud dianggap sebagai simbol kekuatan yang mengobarkan api kezaliman dan penindasan. Kenyataannya, api kezaliman itu tidak dapat membakar hangus semangat kebenaran yang dibawa Nabi Ibrahim. Ini suatu pelajaran bahwa jihad yang dilakukan secara sungguh-sungguh dan bijaksana tidak akan dimusnahkan secara total oleh kekuatan besar manapun. Sebaliknya, setangguh apapun suatu kekuatan yang ditegakkan di atas landasan yang bathil, tidak akan sanggup "menghabisi" kekuatan yang dimotivasi oleh niat suci, betapapun kecil kekuatan itu.

Allahu Akbar 3 x

Hikmah yang dapat diperoleh melalui hari raya ini ialah memetik pelajaran berharga dari pengalaman Nabi Ibrahim, yang termasuk satu di antara kelompok kecil nabi yang memperoleh predikat "pemilik kebesaran" (ulul 'azmi) dan secara khusus disebut sebagai "kesayangan Allah" (khalîl Allah). Nabi Ibrahim mempunyai beberapa keutamaan, antara lain usahanya dalam merombak kepercayaan syirik (politeisme) menuju kepercayaan tauhid (monoteisme mutlak), sehingga karena itu pula ia disebut “Bapak Monoteisme”. Ia juga populer karena usahanya merombak tradisi yang anarkhis menuju masyarakat demokratis, dan ketabahannya menghadapi penguasa yang tirani. Dan yang tak kalah pentingnya, besarnya pengorbanan yang ditunjukkan di hadapan Allah melalui ketulusan hatinya untuk mengorbankan putra kesayangannya, Ismail As.

Sebagai penganut teologi rasional dan monoteisme mutlak, Nabi Ibrahim tidak terpengaruh oleh kepercayaan politeisme yang menyembah bintang, matahari, dan berhala, sebagaimana dianut oleh sebagian besar masyarakatnya. Menurut pengamatan Ibrahim, sebagaimana direkam di dalam al-Qur'an, bintang-bintang yang cemerlang di kegelapan malam ternyata pudar di siang hari, matahari yang bersinar terang ternyata tenggelam di malam hari, dan berhala-berhala yang bertebaran ternyata tidak mampu berbuat apa-apa, hingga akhirnya ia berkeyakinan bahwa semuanya itu bukan tuhan dan Tuhan yang sebenarnya ialah Yang Menciptakan alam raya beserta seluruh isinya ini.

Allahu Akbar 3x

Dikisahkan, Nabi Ibrahim mempunyai seorang isteri bernama Sarah. Sampai pada usia senja pasangan ini tidak dikaruniai anak, meskipun ia senantiasa berdoa agar dikaruniai anak shaleh:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

"Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (Q.S. Ash-Shaffât [37]:100).

Dalam suasana pasrah, Sarah mengizinkan suaminya, Ibrahim, mengawini budaknya bernama Hajar, seorang perempuan berkebangsaan Afrika. Akhirnya, Hajar melahirkan seorang anak bernama Isma‘il ketika Ibrahim berumur 86 tahun. Semenjak Hajar mengandung, Sarah menunjukkan rasa cemburu dan benci kepada Hajar, dan mencapai puncaknya setelah Hajar melahirkan Ismail. Hajar dan bayinya diusir lalu sang ibu bersama bayinya pergi mengembara. Di tengah pengembaraan, Ismail sering ditinggal ibunya untuk mencari makanan, akan tetapi tangisan kehausan dan kelaparan Ismail didengarkan Tuhan. Karena itu, ia digelari Ismail dari bahasa Ibrani, Isma berarti “mendengar” dan El berarti “Allah”, artinya “Allah mendengar tangis penderitaan seseorang”. Sebagai tanda kekuasaan Tuhan, maka tiba-tiba muncul mata air di tengah padang pasir itu, yang kini populer dengan sebutan “air zamzam”. Nabi Ibrahim tidak dapat berbuat banyak mengatasi persoalan ini dan sepenuhnya diserahkan kepada Allah. Nabi Ibrahim kembali ke pangkuan isterinya, Sarah.

Allah menghibur Nabi Ibrahim dengan kelahiran Ishaq dari isteri pertamanya, Sarah, ketika Nabi Ibrahim berumur 100 tahun. Itulah sebabnya di dalam Kitab-kitab Tafsir Mu'tabar terdapat dua versi terhadap anak yang dikurbankan Nabi Ibrahim. Sebagian berpendapat yang dikurbankan ialah Ishaq, dengan berdasar kepada Hadis riwayat Umar, Ali, Ibn Mas'ud, dan Abbas. Sebagian lainnya berpendapat Ismail, dengan berdasar kepada Hadis riwayat Ibn Abbas, Ibn Umar, dan Ibn Ishaq. Al-Qur'an dan hadis-hadis Shahih tidak menjelaskan siapa di antara kedua anak Ibrahim itu yang dikurbankan. Hanya dalam Kitab Perjanjian Lama pasal 22 ayat 2 ditegaskan bahwa yang dikurbankan ialah Ishaq, putra bungsu Ibrahim dari isteri pertamanya yang tadinya dianggap mandul.

Allahu Akbar 3x

Bagi kita tidak terlalu penting mempersoalkan siapa yang dikurbankan, tetapi kisah Ibrahim ini sarat dengan pesan-pesan moral. Ibrahim adalah simbol bagi manusia yang rela mengorbankan apa saja demi mencapai keridhaan Tuhan, termasuk rela mengorbankan diri di dalam kobaran api.

Setiap orang mempunyai kelemahan terhadap sesuatu yang dicintainya. Kelemahan Ibrahim terletak pada anak kesayangan yang sudah lama didambakannya dan dari sini pula diuji Allah Swt. Kembali datang berupa godaan setan, tetapi Nabi Ibrahim lulus dari ujian itu. Ia secara tulus dan ikhlas rela mengorbankan putra kesayangannya.

Kalau kita menganggap Ismail yang dikurbankan, maka Ismail adalah simbol bagi sesuatu yang dapat melemahkan dan menggoyahkan iman, simbol bagi sesuatu yang dapat membuat kita enggan menerima tanggung jawab, serta simbol bagi sesuatu yang dapat mengajak kita untuk berpikiran subyektif dan berpendirian egois. Tegasnya, simbol bagi segala sesuatu yang dapat menyesatkan kita.

Allahu Akbar 3x

Mari kita menginstrospeksi dan mengukur diri kita masing-masing. Seandainya kita adalah "Ibrahim" dan seharusnya memang demikian, sudahkah kita memperoleh iman setangguh Nabi Ibrahim? sudahkah kita menunjukkan pengorbanan yang optimal ke arah jalan yang diridhai Allah? Jika kita berada di puncak karir misalnya, sudah relakah kita mengorbankan segalanya demi mempertahankan prinsip-prinsip ajaran yang dianut?

"Ismail" sebagai simbol bagi sesuatu yang amat kita cintai, sudah barang tentu kita semua memilikinya. Boleh jadi "Ismail" kita mengambil bentuk kendaraan baru, rumah mewah, jabatan, deposito, atau kekayaan lainnya. Apakah kita sudah rela mengorbankan "Ismail-Ismail" kita untuk mencapai tujuan hidup yang sebenarnya, yaitu mencapai ridha Allah?

Jika kita sebagai suami, sudah sanggupkah kita meniru ketangguhan iman Nabi Ibrahim untuk mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya, demi mengamalkan perintah Tuhan? Jika kita sebagai isteri, sudah sanggupkah kita meniru ketabahan dan ketaatan Sarah atau Hajar, merelakan suaminya menjalankan perintah Tuhan dan menghargai jiwa besar anaknya? Jika kita sebagai anak, sudahkah kita memiliki idealisme yang tangguh seperti Nabi Ismail, rela menjadi korban untuk suatu tujuan mulia?

Allahu Akbar 3x

Hari raya ‘Idul Adha lazim juga disebut ‘Idul Qurban. Disebut demikian karena pada hari ini disyariatkan pelaksanaan ibadah Qurban, yaitu suatu aksi sosial yang bisanya mengambil bentuk penyembelihan binatang lalu dagingnya dibagi-bagikan kepada fakir miskin.

Kalau saat bulan Ramadhan diwajibkan mengeluarkan zakat fitrah, berupa beras atau makanan pokok lainnya kepada fakir miskin, maka sekitar dua bulan kemudian, fakir miskin kembali memperoleh bentuk uluran tangan berupa daging. Di samping bantuan rutin ini, fakir miskin juga akan memperoleh santunan berupa pembayaran fidyah dan kaffarah umat Islam lainnya. Belum lagi subsidi dalam bentuk lain, seperti shadaqah, infaq, dan zakat harta. Jika seandainya pranata ini berjalan dengan semestinya, maka meskipun terdapat kesenjangan tetapi rasa kesenjangan itu tidak akan hinggap di hati fakir miskin dan tidak perlu cemas terhadap ancaman letupan sosial.

Beras dan semacamnya adalah jenis karbohidrat yang sangat dibutuhkan di dalam tubuh, sedangkan daging adalah protein yang sangat diperlukan di dalam jaringan tubuh. Idealnya setiap hari tubuh kita memerlukan protein hewani atau zat amino acid dalam ukuran tertentu. Seseorang dalam masa pertumbuhan, sekitar 12 tahun ke bawah, membutuhkan zat amino acid 750 Mg. setiap hari dan orang dewasa setiap harinya membutuhkan 350 - 400 Mg. Seseorang yang tidak mencukupi standar ini, terutama kepada anak-anak tadi, maka secara biologis mereka akan mengalami masalah. Paling tidak seorang anak akan mengalami pertumbuhan kecerdasan (IQ) yang lamban dan lemah, serta berbagai gangguan fisik lainnya.

Di antara saudara-saudara kita, masih banyak yang tidak sanggup mengkonsumsi protein hewani setiap hari, mungkin ada yang hanya bisa menikmatinya bulanan atau bahkan tahunan. Perintah untuk berqurban sesungguhnya secara implisit merupakan seruan Tuhan kepada kita untuk membebaskan masyarakat dari kekurangan gizi. Bukankah jiwa dan raga yang prima lebih berpotensi menjadi hamba ideal dan khalifah sukses daripada jiwa dan raga yang lemah: العقل السليم في الجسم السليم (Pikiran yang sehat terletak di dalam tubuh yang sehat).

Allahu Akbar 3x

Saat-saat seperti sekarang ini, Allah Swt menguji kadar keimanan kita dengan pemandangan yang sangat memilukan hati, khususnya saudara-saudara kita yang menjadi korban musibah dan bencana alam. Mereka tidak bisa lagi bersukaria seperti kita di hari lebaran ini, karena masih bergelut mengatasi kebutuhan primernya, yaitu pemenuhan sandang, pangan, dan pakaian. Mudah-mudahan hari raya ini mengetuk pintu hati kita untuk menengok sejumlah pakaian di sudut-sudut lemari kita yang sudah lama tidak pernah kita gunakan, mengecek saldo tabungan kita yang sudah lama tidak pernah diperhatikan. Mungkin kecil artinya bagi kita tetapi sangat besar artinya bagi mereka. Seorang muslim sejati tidak akan membiarkan perutnya kekenyangan di tengah perut keroncongan di bantaran sungai sana. Seorang yang beriman tidak tega memamerkan kelebihan dan kemewahan di tengah penderitaan saudaranya di tenda pengungsian. Seorang yang bertaqwa tidak akan tidur nyenyak di lingkungan saudaranya yang kedinginan tanpa pakaian. Berapa lamakah kita akan hidup di dunia? Dan hanya apakah yang akan kita bawa ke liang kubur? Hanya harta yang disalurkan ke jalan Allah Swt yang akan mengawal kita sampai hari akhirat kelak.

Allahu Akbar 3x

Ya Allah, Tuhan kami Yang Maha Pengasih lagi Penyayang, kami hadir dan bersimpuh di hadapan-Mu di tempat ini, semata-mata untuk mencari ridla-Mu. Curahkanlah rahmat, ma‘unah, dan magfirah-Mu kepada kami semua. Anugerahkan kami iman yang tangguh, setangguh iman yang Engkau berikan kepada keluarga Nabi Ibrahim. Hindarkanlah masyarakat dan bangsa kami dari berbagai musibah dan perpecahan, seperti yang pernah engkau timpakan kepada umat-umat yang berbuat dzalim di masa lalu. Hindarkanlah kami dari cengkeraman anak cucu Kabil, sang penindas yang menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan. Berikanlah ketenangan hidup kepada anak cucu Habil, yang senantiasa menjunjung tinggi prinsip-prinsip objektifitas dan kejujuran.

Ya Allah, Tuhan kami Yang Maha Kuasa, berikanlah petunjuk ke jalan yang Engkau ridhai, berikan pula semangat dan kemampuan untuk menjalaninya tanpa resiko yang dapat menyulitkan kehidupan kami. Ya Allah, hanya kepada-Mu kami serahkan segalanya, terimalah doa kami ini. Amin ya rabbal ‘alamin.

بارك الله …..

Jumat, 13 November 2009

KORUPTOR DAN SEMUT NABI SULAIMAN

akhir-akhir ini bukti bahwa orang yang berpendidikan tinggi pun tidak luput dari perbuatan kurupsi semakin nyata. Tidak sulit kita temukan orang yang berpendidikan tinggi tetapi ternyata juga melakukan korupsi. Para pejabat yang menyelewengkan uang negara, mereka itu bukan tidak berpendidikan, bahkan juga berpendidikan tinggi.

Rasanya sudah sulit dikatakan bahwa, karena bukti yang sudah sekian banyak, pendidikan bisa mencegah tindak kurupsi. Seolah-olah antara korupsi dan pendidikan tidak terkait. Mereka yang bergelar sarjana, bidang apapun, ternyata ada saja yang melakukan penyimpangan uang negara. Ini membuktikan bahwa pendidikan belum bisa mencegah tindak korupsi itu.

Namun tidak berarti bahwa semua orang yang berpendidikan pasti korup. Tidak begitu. Tidak sedikit orang di negeri ini yang masih baik. Mereka itu berpendidikan tinggi atau juga yang tidak berpendidikan cukup, tetapi tidak melakukan perbuatan yang dibenci oleh masyarakat saat sekarang ini. Mereka masih berhasil menjaga kridibilatas, atau kepercayaan yang disandangnya.

Hanya saja memang, sebagaimana tulisan saya beberapa hari yang lalu, bahwa untuk mencari orang yang amanah ternyata semakin lama semakin sulit. Beberapa orang pengusaha merasa kerepotan mencari tenaga kerja yang bisa dipercaya. Orang pintar banyak, tetapi mencari yang bisa dipercaya sulitnya bukan main.

Apakah tidak amanah itu memang menjadi sifat dasar atau milik manusia pada umumnya. Rasanya hal itu perlu dikaji lebih mendalam. Terasa sekali memang, sangat sedikit orang yang benar-benar dapat dipercaya. Bahkan semut pun dalam suatu kisah, tidak begitu saja bisa mempercayai manusia. Sikap semut yang demikian itu bisa diperoleh melalui kisah Nabi Sulaiman sebagai berikut.

Pada suatu ketika, Nabi Sulaiman yang dikenal mampu berbicara dengan binatang, pernah menginterogasi seekor semut. Binatang kecil ini pada suatu saat ditanya oleh Sulaiman tentang berapa butir gandum yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidupannya selama setahun. Sengaja Nabi Sulaiman menanyakan hal itu, karena sehari-hari binatang kecil ini tidak henti-hentinya selalu sibuk mencari nafkah.

Semut itu dengan rasa takut menjawab, bahwa sesungguhnya dalam setahun ia hanya memerlukan sebutir gandum, dan tidak lebih dari itu. Mendengar jawaban semut itu, segera Nabi Sulaiman menangkap dan memasukkannya ke dalam sebuah botol, lalu botol tersebut ditutupnya rapat-rapat. Botol yang kosong itu selain dimasuki seekor semut, juga diisi sebutir gandum agar dimakan selama setahun.

Setelah genap setahun, botol yang berisi seekor semut dan sebutir gandum tersebut dibuka sendiri oleh Nabi Sulaiman. Ternyata semut tersebut masih bisa bertahan hidup. Hanya saja, Nabi Sulaiman agak kaget, karena sekalipun semut tersebut sudah genap setahun di dalam botol, ternyata masih menyisakan separo dari sebutir gandumnya.

Atas kenyataan itu, Nabi Sulaiman menegur semut, dan menganggapnya binatang berukuran kecil itu telah berbohong padanya. Dengan tangkas semut mengelak. Ia sengaja tidak menghabiskan persediaan makanan yang dimiliki, dan berusaha menghematnya. Memang, pengakuan ulang semut, biasanya ia menghabiskan sebutir gandum dalam setahun. Tetapi karena ia berada di dalam botol, maka harus menghematnya dan hanya menghabiskan separonya. Strategi itu diambil, karena ia khawatir kalau-kalau Nabi Sulaiman lupa, tidak membuka botol itu dan menjadikannya kehabisan persediaan makanan.

Semut berargumen, jika ia berada di luar botol, maka ia tidak khawatir kehabisan makanan. Sekalipun makanan habis, jika ia berada di luar botol, maka semut yakin Tuhan akan segera mencukupi. Tetapi kalau ia berada di dalam botol, maka tidak akan bisa terlalu menggantungkan pada Nabi Sulaiman. Sebab ia tahu bahwa manusia pada umumnya selalu bersifat pelupa dan salah. Karena itu tatkala sedang menghadapi manusia selalu harus hati-hati, tidak terkecuali kepada Nabi Sulaiman sekalipun.

Melalui kisah sederhana ini setidak-tidaknya dapat kita ambil dua pelajaran penting. Pertama, ketika menghadapi dua kelompok yang sedang bertikai tidak semestinya terlalu cepat berpihak. Keduanya harus diteliti terlebih dahulu secara saksama. Sebab ternyata, semut saja terhadap Nabi Sulaiman juga curiga, apalagi terhadap seseorang yang bukan nabi. Keduanya harus diteliti dulu lewat saluran yang berkompeten, sehingga ditemukan kesimpulan yang tepat.

Kedua, bahwa manusia di mana saja, jika dipaksa oleh keadaan dan memiliki kesempatan atau peluang, maka berkemungkinan melakukan kesalahan, termasuk berkorupsi. Karena itu, tidak selayaknya, seseorang yang belum apa-apa sudah merasa paling bersih dan paling benar. Orang dikatakan benar-benar mampu menahan tidak korupsi, manakala berpeluang atau memiliki kesempatan, tetapi tetap lulus tidak melakukan kesalahan itu, apalagi sebenarnya ia dalam keadaan membutuhkannya. Wallahu a�lam.

Kamis, 12 November 2009

PENDAPATAN DILUAR GAJI POKOK

Pendapatan Pejabat di Luar Gaji Pokok 16/02/2009 Telah diketahui bahwa gaji pokok para bupati, gubernur, anggota dewan perwakilan rakyat dan para pejabat lainnya jelas-jelas tidak dapat menutup biaya yang dikeluarkan selama masa kampanye. Namun nyatanya masih saja banyak yang berminat. Hal ini lantaran para calon pejabat yakin penghasilan di luar gaji pokok atau biasa disebut dengan ceperan itu jumlahnya lebih banyak, seperti dari persenan (fee) para kontraktor yang menang tender, serta uang lembur, tunjangan-tunjangan dan lain-lain yang yang melebihi dari gaji pokok dan jumlahnya berlipat-lipat.Bagaimanakah konsep fiqh tentang pendapatan di luar gaji pokok di atas. Halalkah pendapatan di luar gaji pokok itu?Dalam beberapa kitab mu’tabarah yang menjadi rujukan pesantren seperti Bughyatul Mustarsyidin, Roudlotut Tholibin, I’anatut Tholibin, Ahkamus Shulthoniyah, Ihya` Ulumiddin, Ta’liqatut Tanbih fi Fiqhis Syafi’i dan Al-Bajuri tidak ada penjelasan secara khusus mengenai gaji pokok dan gaji ceperan untuk para pejabat.Dalam Kitab Bughyatul Mustarsyidin secara sederhana dijelaskan bahwa gaji para hakim, juga para wakil rakyat yang bekerja untuk kemaslahatan umat diambilkan dari kas negara (baitul maal), dengan kadar yang pantas dan tidak berlebihan. Selanjutnya, setelah mendapatkan gaji itu, para pejabat tidak diperkenankan mengambil imbalan dari dua orang yang sedang bertransaksi, para hakim tidak boleh memungut sesuatu pun dari pihak-pihak yang bermasalah, dan para petugas nikah atau Kantor Urusan Agama (KUA) tidak boleh menerima pemberian dari orang yang melangsungkan akad akad nikah.Para hakim diharamkan menerima suap (riswah). Dalam Roudlotut Thalibin, mengutip Syeikh Abu Hamid, dijelaskan, jika pun kas negara tidak cukup dana (rizki) untuk menggaji para hakim, maka diperkenankan meminta rizki kepada pihak-pihak bermasalah dan disepakati sebelum permasalahan disidangkan. Penjelasan serupa juga ditemukan dalam kitab I’anatut Tholibin.Persoalan penghasilan di luar gaji pokok dikaitkan dengan pembahasan tentang riswah atau suap. Namun dalam banyak pembahasan, riswah dibedakan dengan pengertian hadiah. Dalam kitab Ihya` Ulumiddin disebutkan, Imam Ghazali ditanya, apa mungkin riswah dan hadiah dibedakan, toh keduanya tidak mungkin diberikan tanpa ada maksud, kenapa riswah dilarang sementara hadiah tidak, apa yang membedakan keduanya?Imam Ghazali menjawab, memberikan sesuatu kepada orang lain memang tidak mungkin tanpa maksud. Dalam penjelasan yang panjang lebar Imam Ghazali menjelaskan bahwa pemberian itu sejatinya dimaksud untuk mendekatkan diri dengan pihak yang diberi, atau si pemberi berharap akan memperoleh dampak dari pemberian itu. Jika si pemberi sekedar berharap mendapatkan tambahan ilmu pengetahuan dengan pemberian itu maka hukumnya maksuh saja, dan ini adalah hadiah. Sementara jika pemberian itu dimaksud untuk mempengaruhi keputusan hakim atau kebijakan pemerintah, atau si pemberi memberikan hadiah kepada para hakim dan pejabat atas kebijakan yang menguntungkan dirinya, maka itu adalah riswah.
فَإنْ كَانَ جَاهُهُ بِوِلَايَةٍ تَوَلَّاهُ مِنْ قَضَاءٍ أوْ عَمَلٍ أوْ وِلَايَةِ صَدَقَةٍ أوْ جَبَايَةِ مَالٍ أوْ غَيْرِهِ مِنَ اْلأَعْمَالِ السُّلْطَانِيَةِ حَتَّى وِلَايَةِ الْأَوْقَافِ مَثَلاً وَكَانَ لَوْلَا تِلْكَ اْلوِلَايَةِ لَكَانَ لَايَهْدَى إلَيْهِ فَهَذِهِ رِشْوَةٌ عَرَضَتْ فِيْ مَعْرِضِ الْهَدِيَّةِ-- إحياء علوم الدين؛ ج 2/ ص 152-153Apabila hadiah itu diberikan berkaitan dengan jatuhnya keputusan pengadilan, atau pencairan dana sosial dan berbagai kebijakan pemerintah yang lain seperti terkait wakaf, dan jika tanpa maksud itu seseorang tidak akan memberikan hadiah maka yang semacam ini disebut riswah (suap), meskipun kelihatannya seperti hadiah. (Ihya’ Ulumiddin 2: 152-153) Maka kembali kepada pertanyaan di atas, berdasarkan beberapa uraian dalam kitab-kitab mu’tabarah tersebut, bisa disimpulkan bahwa pendapatan yang diperoleh dari hasil ‘main mata’ dengan para kontraktor berupa uang persenan hukumnya adalah haram, sekalipun ada Undang-Undang yang membenarkan ini.Sedangkan pendapatan lain yang didapat dari gaji lembur atau berbagai fasilitas tambahan yang diberikan dari negara dibolehkan sepanjang itu setimpal dengan jerih payah yang dilakukan dalam mengurus rakyat atau mewujudkan kemaslahatan umat. Definisi setimpal ditentukan oleh adat atau berdasarkan rata-rata penghasilan masyarakat setempat (qadra kifayatil laiqah min ghairi tabdzir), atau mungkin tepatnya tidak terlalu jauh melebihi upah minimum regional (UMR).--

SUAP ATAU RISWAH DALAM PANDANGAN ISLAM


Posted on Desember 4, 2007 by abu mujahid
Risywah (suap) secara terminologis berarti pemberian yang diberikan seseorang kepada hakim atau lainnya untuk memenangkan perkaranya dengan cara yang tidak dibenarkan atau untuk memperoleh kedudukan. (al-Misbah al-Munir – al Fayumi, al-Muhalla –Ibnu Hazm).
Semua ulama sepakat mengharamkan risywah yang terkait dengan pemutusan hukum, bahkan perbuatan ini termasuk dosa besar. Sebagaimana yang telah diisyaratkan beberapa Nash Qur’aniyah dan Sunnah Nabawiyah berikut ini:
Artinya:”Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram” (QS Al Maidah 42).
Imam al-Hasan dan Said bin Jubair menginterpretasikan ‘akkaaluna lissuhti’ dengan risywah. Jadi risywah (suap menyuap) identik dengan memakan barang yang diharamkan oleh Allah SWT.
Artinya:” Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain diantara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui” (QS Al Baqarah 188)
Artinya: “Laknat Allah bagi penyuap dan yang menerima suap dalam hukum”(HR Ahmad, Abu Dawud dan at-Tirmidzi)
Artinya: “Laknat Allah bagi penyuap dan yang menerima suap”(HR Khamsah kecuali an-Nasa’i dan di shahihkan oleh at-Tirmidzi)
Artinya: “Rasulullah SAW melaknat penyuap, yang menerima suap dan perantaranya”(HR Ahmad )
Jadi diharamkan mencari suap, menyuap dan menerima suap. Begitu juga mediator anatara penyuap dan yang disuap. Hanya saja jumhur ulama membolehkan penyuapan yang dilakukan untuk memperoleh hak dan mencegah kezhaliman seseorang. Namun orang yang menerima suap tetap berdosa (Kasyful Qona’ 6/316, Nihayatul Muhtaj 8/243, al-Qurtubi 6/183, Ibnu Abidin 4/304, al-Muhalla 8/118, Matalib Ulin Nuha 6/479).
Pembagian Risywah Menurut Madzhab hanafi
Risywah terkait dengan putusan hukum dan kekuasaan, hukumnya haram bagi yang menyuap dan yang menerimanya.
Menyuap hakim untuk memenangkan perkara, hukumnya haram bagi penyuap dan yang disuap.
Menyuap agar mendapatkan kedudukan/ perlakuan yang sama dihadapan penguasa dengan tujuan mencegah kemudharatan dan meraih kemaslahatan, hukumnya haram bagi yang disuap.
Memberikan harta (hadiah) kepada orang yang menolong dalam menegakkan kebenaran dan mencegah kezhaliman dengan tanpa syarat sebelumnya, hukumnya halal bagi keduanya.
Penerima Suap :
1. Penguasa dan Hakim
Ulama sepakat mengharamkan penguasa atau hakim menerima suap atau hadiah. (Kasyful Qona’ 6/316, Nihayatul Muhtaj 8/242, al-Qurtubi 2/340).
2. Mufti
Haram bagi seorang mufti menerima suap untuk memberikan fatwa sesuai yang diinginkan mustafti (yang meminta fatwa). (ar-Raudhah 11/111, Asnaa al-Mutahalib 4/284)
3. Saksi
Haram bagi saksi menerima suap apabila ia menerimanya maka gugurlah kesaksiannya. (al-Muhadzaab 2/330, al-Mughni 9/40 dan

Jumat, 06 November 2009

HUBUNGAN ORANG TUA DAN ANAK

Kasih sayang dan simpati orang tua bersifat khas. Bahkan, jika seorang anak berpaling dari orang tua dan menghinanya, mereka dengan sabar terus berdoa agar Allah mengampuni dan membimbingnya, serta berharap mudah-mudahan sang anak menyadari kesalahannya. Ini mencerminkan hubungan luar biasa yang tidak dimiliki oleh mahluk lain dan hanya terdapat dalam lingkungan keluarga.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali mengalami berbagai konfrontasi yang menyebabkan timbulnya perilaku agresif. Dalam sebuah keluarga, khususnya keluarga yang memiliki latar belakang agama yang baik, sekalipun orang tua menjadi sasaran kemarahan dan kejahilan perilaku anaknya, mereka tidak akan membuang sikap kasih sayang terhadapnya, tetapi justru dengan lemah lembut membimbing dan berdoa untuk menggapai keberhasilan dalam kehidupannya.
Firman Allah Swt:
وَالذِى قَالَ لِوَالِدَيْهِ أُفٍّ لَكُمَا أَتُعِدَّانِنِى أَنْ أُخْرَجَ وَقَدْ خَلَتِ الْقُرُوْنُ مِنْ قَبْلىِ وَهُمَا يَسْتَغِيْثَانِ اللهَ وَيْلَكَ آمِنْ إِنَّ وَعْدَ اللهِ حَقٌّ فَيَقُوْلُ مَا هَذَا إِلاَّ أَسَاطِيْرُ اْلأَوَّلِيْنَ
“Dan orang yang berkata kepada kedua orang tuanya : “Cis bagi kamu berdua, apakah kamu berdua memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan, padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku? Lalu, kedua ibu bapaknya itu memohon kepada Allah seraya mengatakan: Alangkah celaka kamu (kalau begini), berimanlah! Sesungguhnya janji Allah adalah benar”. Lalu dia berkata: Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu belaka”. (QS. Al-Ahqaaf, 17)
Perintah dalam ayat ini adalah anjuran yang disertai peringatan dan kelemahlembutan. Perintah Allah untuk orang tua yang terdapat dalam ayat tadi adalah agar mereka mendidik anaknya untuk bersikap hormat dan lemah lembut kepada orang tua. Dengan alasan inilah Allah Swt. berfirman: وَوَصَّيْنَا اْلإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا
“Dan kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada orang tuanya….”. (QS. Al-Ahqâf: 15)
Bukan hanya orang-orang muslim saja yang sesungguhnya menjadi obyek dari perintah ini, melainkan juga semua orang dalam masyarakat wajib berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Hal ini mengingat perjuangan seorang ibu sewaktu melahirkan dan merawat anaknya, juga pendidikan seorang ayah sejak ia bayi. Kesadaran akan hal ini bisa menimbulkan rasa kasih sayang dan sifat pemaaf dalam diri anak.
Sebagaimana halnya anak yang mesti memenuhi beberapa kewajiban yang berkaitan dengan orang tuanya, orang tuapun harus melaksanakan beberapa kewajiban mereka terhadap anaknya. Atas dasar ini, orang tua tidak diperbolehkan meninggalkan anaknya. Inilah kewajiban agama yang harus mereka laksanakan.
Pada hakekatnya hubungan orang tua dengan anak adalah hubungan dunia dan akhirat, yakni hubungan yang terus berjalan semasa hidup sampai wafatnya. Namun, hubungan tersebut akan terputus manakala akidah mereka berbeda. Hal ini dapat kita petik dari kisah keluarga Nabi Nuh As. ketika ia berusaha menolong anaknya yang hampir tenggelam, sebagaimana dijelaskan dalam al-Quran surat Hûd ayat 45:
وَنَادَى نُوْحٌ رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِى مِنْ أَهْلِى وإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ اْلحَاكِمِيْنَ
“Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya”.
Lalu, Allah Swt. menjawab dengan firman-Nya:
قَالَ يَا نُوْحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْر صَالِحٍ فَلاَ تَسْئَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّى أَعِظُكَ أَنْ تَكْوْنَ مِنَ الْجَاهِلِيْنَ
“Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan) sesungguhnya itu perbuatan yang tidak baik. Sebab itu, janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak kamu ketahui (hakekatnya). Sesungguhnya Aku memperingatkanmu supaya kamu tidak termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan”. (QS. Hûd: 46)
Perbedaan keyakinan tersebut dapat memutuskan hubungan anak dan orang tua di akhirat, namun tidak di dunia. Karena, bagaimanapun buruknya orang tua tetap harus dihormati dan seburuk-buruk anaknya dia adalah darah dagingnya sendiri, maka dalam kehidupan di dunia hubungan kekeluargaan dan silahturahmi tidak terputus.
Kegagalan Nabi Nuh As. dalam melindungi dan mendidik keluarganya dikarenakan istrinya yang berbeda keyakinan (kafir­). Dengan demikian, seorang ibu memiliki peran yang sangat vital bagi pertumbuhan pribadi anak. Hikmah yang tersirat adalah mendidik anak tidak bisa dilakukan oleh seorang ayah saja, akan tetapi harus didukung penuh oleh sang isteri (ibu). Maka dari itu, keluarga yang baik akan tercipta apabila keduanya (suami-isteri) memiliki keyakinan yang sama.
Dalam hadits diriwayatkan bahwa jika seseorang telah wafat, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan do’a anak yang saleh (HR. Bukhari dan Muslim). Keterangan hadits tadi menjelaskan bahwa amal yang tidak terputus dari dunia sampai akhirat salah satunya adalah do’a anak yang saleh untuk kedua orang tuanya.
Dalil mengenai kewajiban seorang mukmin untuk melindungi keluarganya dari api neraka adalah QS. At-Tahrîm ayat 6 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”.
Ayat di atas berkaitan dengan hadits Nabi Saw. sebagai berikut:
“Kamu sekalian adalah penggembala dan setiap orang bertanggung jawab terhadap gembalaannya. Seorang pemimpin adalah penggembala dan bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya. Seorang laki-laki seperti penggembala bagi keluarganya dan ia bertanggung jawab terhadap gembalaannya. Seorang wanita seperti penggembala terhadap rumah suami dan anak-anaknya, dan bertanggung jawab terhadap mereka. Dan, seorang pembantu adalah penjaga harta tuannya dan bertanggung jawab terhadap yang dijaganya. Jadi, kamu sekalian adalah penjaga dan bertanggung jawab terhadap tugasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).Kewajiban orang tua terhadap anaknya dalam hadits di atas digambarkan oleh Rasulullah Saw. seperti penggembala yang harus berhati-hati terhadap gembalaannya. Orang tua harus selalu mengawasi dan memperhatikan anak-anaknya, sehingga mereka yakin anak-anaknya tidak tersesat dan tumbuh sesuai dengan ajaran al-Qur’an dan Sunnah. Bârakallâhu lî wa lakum.

YANG MUDA YANG BETAKWA

apa yang kamu pikirin kalo denger kalimat bahwa pemuda adalah generasi penerus bangsa? Terus apanya yang di terusin? Hehehe, siapa lagi yang akan menerusakan perjuangan dan dakwah yang sudah dilakukan para kaum tua yang telah mendahului kita? Hmm.. yang pasti anak muda dong ya. Khususnya, pemuda yang mempunyai akhlak yang baik dan tentunya memiliki ilmu pengetahuan yang luas.
Pemuda berperan penting dalam kehidupan di dunia ini. Potensi yang dimiliki sangat besar jika diasah dan disinergikan, potensi-potensi itu akan menghasilkan ledakan yang dahsyat. Tapi percuma saja kalo pemudanya bermalas-malasan (termasuk yang malas beneran), tidak bersemangat dan mudah putus asa apa lagi kalo diajak halaqah atau ngaji aja susah? Hmm, kalo begitu gimana mau jadi pemuda muslim yang ideal? Gimana mau jadi anak muda yang bertakwa?
Bro, ada orang bilang: “Yang muda yang berkarya dan jangan cuma bicara”. Hehe.. kita di gaulislam ini bukan bicara, tapi menulis. Yup, insya Allah tulisan ini sebagai wujud nyata sumbangan pemikiran dan dakwah, usaha untuk menyemangati dan mengkritisi kondisi pemuda saat ini. Prikitiw!
Sobat muda muslim, banyak perubahan besar yang terjadi dan dilakukan oleh pemuda, coba kita flashback pada masa detik-detik kemerdekaan bangsa Indonesia, semangat para pemuda saat itu luar biasa sampai-sampai Ir. Soekarno diculik oleh golongan pemuda untuk segera memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia. Jangan lupa juga momentum sumpah pemuda yang bertekat untuk bersatu membangun bangsa juga dilakukan oleh pemuda. Oya, ini terlepas dari perjuangan tersebut salah dalam pandangan Islam ya. Tapi yang kita lihat pelakunya adalah pemuda.
Dalam sejarah Islam, banyak anak pemuda yang memilih dan masuk Islam. Yang termuda, Ali bin Abi Thalib berusia 8 tahun hampir sama dengan az-Zubair bin Al-Awwam, kemudian Ja’far bin Abi Thalib (18), Usman bin Affan (20), Umar bin Khattab (26). Bahkan ada yang berprestasi di usia muda, yakni Usman bin Zaid yang ketika diangkat menjadi panglima perang usianya yang masih cukup belia (18). Rasulullah saw. mengangkatnya menjadi penglima perang untuk memimpin pasukan muslimin dalam penyerbuan ke wilayah Syam yang berada dalam kekuasaan Romawi.Ibnu Abbas ra berkomentar: “Tidak ada seorang nabi pun yang diutus Allah, melainkan ia (dipilih) dari kalangan pemuda saja (30-40 tahun). Begitu pula tidak ada seorang alim pun yang diberi ilmu melainkan ia dari kalangan pemuda.” Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala, namanya Inrahim.” (QS al-Anbiyaa [21]: 60)
Pemuda-pemuda seperti merekalah yang kita patut teladani, ilmu pengetahuan, semangat berjuang, jiwa berkorban dan ketakwaan semata-mata hanya mengharap ridho Allah dan RasulNya.
Potret buramSaat ini kita patut bangga atas prestasi anak muda Indonesia dalam berbagai bidang. Di bidang sains, pemuda Indonesia menjuarai olimpiade internasional seperti meraih medali perak pada tahun 2008 lalu, dalam ajang Internasional Mathematics Olympiad (IMO), Internasional Biology Olympiad (IBO) dan masih banyak lagi.
Di antara segudang prestasi yang diraih nggak kalah banyak juga pemuda yang terjerumus dalam pergaulan yang salah. Budaya seks bebas yang mudah dijumpai. Hampir ada di setiap kampung maupun kota besar. Narkoba pun merajalela. Padahal pakai narkoba bukan solusi yang gentleman “nggak cowok banget dach!”. Lagian, apa nggak apda nyadar kalo banyak yang meninggal akibat OD (over dosis). Di media massa juga seperti terbiasa memberitakan tentang aborsi akibat pergaulan seks bebas. Apa mungkin si perempuan belum siap atas kehamilannya dan status buruk yang dicap kemudian menggugurkan kehamilannya. Ada juga bayi yang sudah dilahirkan sengaja dibunuh oleh ibunya. Waduh, parah banget!
Bro en Sis, nggak sedikit kasus pelajar yang putus asa karena nggak lulus ujian nasional. Mereka mengambil jalan pintas dengan melakukan bunuh diri karena merasa malu. Budaya konsumerisme dan gaya hidup mewah mungkin udah mendarah daging di kehidupan remaja perkotaan. Doktrin kapitalisme membuat mereka terperosok ke dalam nafsu individualisme dan materialisme. Ironisnya saat ada teman yang mendakwahinya, dia bilang: “Urusin aja diri elo sendiri, ngapain repot-repot ngurususin gue? Udah deh urusan kayak begini nggak usah disangkut-pautin sama masalah agama”.
Wadduh, masih untung ada yang mau peduli dengan sesama temannya. Apa jadinya dunia jika semua manusia bersikap individualistis?Bro en Sis, sebelumnya saya nggak ingin menghakimi atau mencerca teman-teman nih. Tapi kita juga wajib kritis dan menyadarkan bahwa masih banyak remaja yang mengaku Islam tapi nggak mau mengkaji ajaran agamanya sendiri. Coba tanyakan pada anak muda yang mengaku Islam yang sedang berlalu-lalang di jalan untuk menyebutkan 12 nama bulan dalam Islam? Kmeungkinan besar banyak yang tak hapal dan terbata-bata menyebutkannya, tapi giliran ditanya bulan masehi? Anak sekolah dasar pun lancar nyerocos (tentu yang tahu hehehe), kayak busway yang lagi ngebrutss. Repot-repot tanya soal bulan hijriah coba dech tanya dulu huruf hizaiyah? Hehehe. Demokrasi mengajarkan kita untuk mengagungkan kebebasan, dan hasilnya kerusakan!
Bro en Sis, “kita jangan jadi bebek” alias mengikuti budaya Barat mulai dari cara berpakaian, hedonisme, hura-hura, pergaulan bebas terus suka mengkonsumsi narkoba. Pemuda adalah penerus bangsa yang nantinya akan menjadi pemimpin negara bahkan dunia. Negara pastinya hancur jika remaja tidak segera diselamatkan. Nggak percaya? Jangan dicoba!
Pemuda idealSolusinya hanya ada satu yaitu kembali kepada Islam yang kaffah (menyeluruh). Jangan setengah-setengah agar kita menjadi pemuda yang ideal menurut Islam. Islam adalah agama yang amat memuliakan dan memperhatikan pemuda. Dalam al-Quran ada kisah tentang Ashabul Kahfi, cerminan sekelompok pemuda yang beriman dan tegar keimannya kepada Allah Swt. Mereka berani meninggalkan kaumnya yang mayoritas menyimpang dari ajaran Allah Ta’ala dan penguasa dzalim sementara ratusan orang dibinasakan, diceburkan ke dalam parit berisi api yang bergejolak. Sekelompok pemuda itu bersembunyi ke dalam sebuah gua dan Allah Swt. menyelamatkannya dengan menidurkan mereka selama 309 tahun, Subhannallah! Nah, gimana sih kriteria pemuda Islam yang ideal? dan sifat-sifat dasar yang dituntut dari pemuda Islam? Yuk, ini juga perlu jadi catatan dan tolak ukur buat kita, menurut Dr. M. Manzoor Alam (1989 : 40-43) kriteria dan sifat-sifat dasar tersebut adalah:
Pertama, percaya dan hanya menyembah kepada Allah. Firman Allah Swt. (yang artinya):“Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika ia memberi pelajaran kepada anaknya, “Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman besar.” (QS Luqman [31]: 13)
Kedua, berbuat baik atau berbakti kepada kedua orang tua, Islam menekankan pentingnya berbuat kepada kedua orang tua dan merupakan bagian terhadap penyembahan terhadap Allah Yang Maha Kuasa. Sebagaimana dalam firman Allah Swt. (yang artinya) “Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (QS al-Israa [17]: 23)
Ketiga, jujur dan bertanggungjawab, pemuda Islam patutnya berikhtiar untuk memanfaatkan amanah yang berupa kekayaan, kedudukan, kesehatan, tindakan, pengetahuan dan lainya (termasuk dakwah). Firman Allah Swt. (yang artinya): “Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, Maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, Maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami), Kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. Dan berapa banyaknya kaum sesudah Nuh Telah kami binasakan. dan cukuplah Tuhanmu Maha mengetahui lagi Maha melihat dosa hamba-hamba-Nya.” (QS al-Israa [17]: 16-17)
Keempat, persaudaraan dan kasih sayang, Pemuda Islam juga harus memiliki sifat kasih sayang antar sesamanya dan hendaknya dibarengi dengan semangat berkorban. Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS al-Hujuraat [49]: 10)
Kelima, yang terakhir adalah bermusyawarah, setiap individu memiliki perbedaan, agar tidak terjadi perpecahan dan kesalahpahaman dalam bermasyarakat, tentunya pemuda Islam juga harus perpegang teguh pada norma-norma permusyawarahan. Seperti yang telah diamanatkan Allah Swt. (yang artinya): “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepadaNya”. (QS Ali ’Imran [3]: 159)
Apa yang bisa kita lakukan?Wah, indah banget deh kalau saja sifat-sifat dasar tersebut ada di dalam diri pemuda muslim saat ini, pastinya akan membawa perubahan dan kemajuan ke arah yang jauh lebih baik. Poin yang teramat penting adalah ketakwaan kita kepada Allah Swt. Jika hidup kita disibukkan dengan urusan agama Islam tentu urusan duniawi akan mengikuti dengan baik. Namun sebaliknya jika kita hanya berjibaku dengan urusan duniawi, alhasil hanya kenikmatan fatamorgana yang kita dapat, penyesalan dan kehancuran. Tentu, yang lebih mendasar adalah perkara aqkdah. Seharusnya kita lebih memahami dan menerapkan akidah yang benar.
Bro en Sis, bukan perkara sulit untuk mewujudkannya jika kita mau melakukan perubahan mulai pada diri kita sendiri. Jangan cuma bicara “Talk less do more” Hehehe. Hal kecil yang bisa kita lakukan adalah berdakwah, karena merupakan kewajiban setiap muslim untuk mengingatkan ke jalan yang benar dan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama. Dakwah bisa dengan lisan dan tulisan. Kepada orang terdekat dengan kita, juga kepada yang jauh dari sekeliling kita. Jangan sampai mencela orang-orang yang berbuat salah karena itu akan membuat mereka semakin gila dalam kesalahan, jangan sampai kita berdakwah namun menganggap kita lebih mulia dan lebih berilmu dari mereka yang kita dakwahi.
Nah, pertanyaannya adalah bagaimana mewujudkan supaya kita menjadi pemuda yang ideal menurut Islam? Hmm.. tentunya dengan belajar sebagai langkah awal mendalami Islam yang seutuhnya kemudian segera menyampaikan ilmu yang kita dapat dan kita pahami kepada teman-teman yang lainnya dengan cara berdakwah. Oh indahnya jika semua itu bisa terwujud. Tapi, memang harus diusahakan untuk terwujud. Itulah mengapa kita wajib berdakwah. Yuk ah, moga kita makin takwa dan semangat untuk belajar Islam dan mendakwahkannya. Siap? Yes

Rabu, 04 November 2009

POLIGAMI ITU INDAH DAN MENYENANGKAN

Dr. Gina Puspita mencarikan sendiri madu (istri kedua sampai keempat) untuk sang suami. Tapi tak mengaku tertindas. "Poligami itu enak dan perlu, " katanyaHidayatullah.com--Beberapa hari ini, wacana poligami kembali diulas media massa. Banyak yang setuju dan tak sedikit yang sinis. Di antara yang sinis, tentu saja para aktivis perempuan dan para pengagum feminisme. Koalisi Perempuan dan sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) penganut paham gender dan feminis pernah mengusulkan pelarangan praktik pernikahan ini. Alasannya, poligami melanggar hak-hak perempuan terkait “kekerasan” dalam rumah tangga. Benarkah?Kali ini www.hidayatullah.com mewawancarai Dr. Ing. Gina Puspita, DEA. Sebelum ramai pembicaraan tentang praktek poligami, istri pertama Dr. Abdurahman Riesdam Efendi ini boleh jadi di antara sekian Muslimah yang merasakan sendiri pengalaman "dimadu". Tak seperti tuduhan aktivis penganut gender –yang boleh jadi tak merasakan sendiri--, Gina tak mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Ia bahkan mencarikan sendiri calon-calon pendamping sang suaminya untuk yang kedua sampai keempat.Misalnya, tahun 1995, ia mencarikan sang suami, Abdurahman, calon istri kedua. Sang suami kemudian menikah lagi dengan Basyiroh Cut Mutia. Enam tahun kemudian, Gina mencarikan istri ketiga sang suami, yakni Siti Salwa asal Malaysia. Dan yang terakhir, menikah dengan Fatimah. Praktis Abdurahman memiliki empat orang istri.Jadi semua istri muda itu bukan pilihan sang suami, justru pilihan Gina alias sang istri pertama Abdurahman. Tak seperti dugaan aktivis perempuan selama ini, di mana poligami dianggap begitu rendah dan rawan konflik. Mereka berempat justru sangat rukun dan bahagia. Bahkan bekerja di kantor yang sama dan tinggal seatap, di Taman Rempoa Indah, Ciputat, Tangerang.Tak seperti tuduhan kaum feminis yang mengatakan pelaku poligami karena faktor ekonomi. Gina adalah seorang wanita terdidik. Bahkan lulusan sekolah Eropa. Ia merupakan wanita Indonesia pertama yang lulus kedirgantaraan di Ecole National Superieure de l'Aeronautique et de l'Espace (Ensae), di Toulouse, Prancis. Wanita kelahiran Bogor 8 September 1963 ini bahkan pernah menjadi Kepala Departemen Structure Optimization Divisi Riset & Development IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara).''Kalau suami sedang dengan istri yang lain, kami bertiga ngobrol-ngobrol di satu kamar,'' tutur Gina suatu hari. Bila berada di luar kota, mereka bertukar pesan lewat SMS. Pokoknya, akrab. ''Poligami yang didasarkan pada Allah SWT tidak akan menimbulkan masalah,'' ujarnya. "Bahkan enak dan perlu," tambahnya. Berikut wawancara dengan Dr Gina beberapa waktu lalu:Apa kabar Anda dan keluarga?Kami sekeluarga Alhamdulillah sehat. Semoga kesehatan yang dirahmati Allah.