Rabu, 25 November 2009
BESOK LEBRAN
Sidang itsbat atau penetapan tanggal 1 Dzulhijjah 1430 H baru diadakan Rabu (18/11) pagi besok pukul 10.00 WIB di kantor Departemen Agama Jakarta. Pada penentuan awal Syawal sidang itsbat diadakan malam hari setelah pelaksanaan rukyatul hilal. Sementara rukyat untuk bulan Dzulhijjah ini diadakan pada Selasa (17/11) petang.
Ketua Lajnah Falakiyah PBNU, KH Ghazalie Masroeri menyatakan, sidang itsbat mestinya diadakan sesaat setelah pelaksanaan rukyatul hilal agar masyarakat dapat segera memperoleh ketetapan awal bulan Dzulhijjah.
Menurutnya, pihaknya mendapatkan undangan untuk mengikuti sidang itsbat yang dilakukan pada hari Rabu karena menyesuaikan dengan jadwal Menteri Agama Suryadharma Ali.
“Ini memang aneh dan juga lucu. Mestinya setelah rukyat langsung segera disusul dengan sidang itsbat. Mestinya untuk acara yang sepenting ini menteri yang menyesuaikan jadwalnya,” kata Kiai Ghazalie kepada NU Online di Jakarta, Senin (16/11).
Rukyatul hilal untuk menetapkan awal Dzulhijjah diadakan pada Selasa (17/11) petang bertepatan dengan tanggal 29 Dzulqa’dah 1430 H. Lajnah Falakiyah PBNU sendiri akan mengkoordinir pelaksanaan rukyat di sedikitnya 65 titik strategis di Indonesia. Hasil rukyatul hilal akan dilaporkan kepada para petugas di kantor Lajnah Falakiyah PBNU.
Mestinya setelah pelaksanaan rukyat ini, tanggal 1 Dzulhijjah 1430 H bisa langsung ditetapkan pada hari itu juga. Menurut Kiai Ghazalie Lajnah Falakiyah PBNU tetap akan menginformasikan hasil rukyat, meskipun ikhbar atau pengumuman resminya baru dikeluarkan setelah sidang itsbat. (nam)
sumber : http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=20429
MANIPULASI IBLIS
فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْآتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ إِلا أَنْ تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ
Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: "Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)”. Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. "Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua. (QS. Al-A’rof: 20-21)
Kisah ini adalah kisah yang telah lama diketahui oleh manusia, yaitu kisah antara Adam, Hawa dan iblis. Kisah yang diabadikan dalam Al-Quran dengan pengambaran yang sangat gamblang dan jelas, yang diceritakan langkah demi langkah, tentu memberikan sebuah gambaran kepada kita bahwa ketika Bapak dan Ibu dari seluruh manusia itu digoda oleh iblis, maka anak keturunannyapun tidak luput dari godaan itu. Seperti itulah ikrar iblis kepada Allah ketika diusir dari surga.
“Sungguh saya benar-benar akan menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus”. (QS. Al-A’rof: 16)
Langkah-langkah yang ternyata telah berhasil membuat Adam dan Hawa tertipu akan selalu digunakan oleh iblis untuk menggoda anak keturunan Adam. Namun jurus-jurus yang sudah diketahui itu kadangkala sering tidak disadari, sehingga kembali membuat manusia tertipu.
Manusia telah dimuliakan Allah, diumumkan kelahirannya kepada makhluk tertinggi dalam majelis para malaikat, para malaikat diperintahkan sujud kepada Adam. Manusia diberikan dua potensi berupa kebaikan dan keburukan, petunjuk dan kesesatan. Pada dirinya terdapat kelemahan tertentu, kalau ia tidak konsisten pada perintah Allah maka dari titik-titik kelemahan itulah ia dapat dimasuki oleh setan.
Bisikan setan ini tidak diketahui bagaimana caranya, akan tetapi kita dapat mengetahui sasarannya berdasarkan informasi yang benar dari Al-Quran, sasaran penyesatan itu adalah titik kelemahan pada diri manusia. Setan mempermainkan kecenderungan manusia yang tersembunyi, manusia ingin kekal, diberi umur yang panjang sehingga sepertinya kekal, manusia juga ingin memiliki kepemilikan yang tak terbatas padahal usia mereka pendek dan terbatas.
Dalam ayat ini diketahui bahwa manipulasi yang digunakan iblis adalah: “An takuunaa malakaini au takuunaa minal khalidin.”
Dalam penjelasan qiroah malakaini ada dua bacaan yang dapat dijadikan pengertian untuk memahamai maksud dari ayat ini. Bacaan pertama adalah: malikaini yaitu huruf lam dibaca kasroh yang berarti dua orang raja, yakni raja dan ratu, bacaan ini dikuatkan oleh nash lain dalam surat Thaaha: “Maukah aku tunjukan kepada kalian berdua, kepada pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan punah”. (QS. Thaha: 120)
Atas dasar bacaan ini, maka manipulasi ini adalah kekuasaan yang abadi dan umur yang kekal. Keduanya merupakan syahwat atau kecenderungan yang paling kuat dalam diri manusia.
Bacaan kedua adalah malakaini, huruf lam dibaca fathah yang berarti dua malaikat, maka manupulasi setan itu adalah dengan melepaskan manusia dari ikatan-ikatan fisik seperti malaikat yang kekal.
Ketika Iblis ini mengetahui bahwa Allah melarang Adam dan Hawa memakan buah ini, dan larangan ini terasa berat dalam jiwa mereka, maka untuk menggoyang hati mereka, iblis menimbulkan khayalan dan angan-angan kepada mereka, di samping juga mempermainkan syahwat dan keinginan mereka. Bahkan iblis memperkuat dengan sumpah bahwa ia adalah pemberi nasehat yang berlaku jujur.
Adam dan istrinya lupa karena pengaruh dorongan syahwat dan sumpah setan yang penuh tipu daya bahwa setan adalah musuh mereka yang tidak mungkin menunjukkan mereka kepada kabaikan.
Sayyid Qutb dalam tafsirnya menjelaskan bahwa, “Sesungguhnya iblis hanya mendatangi mereka dari titik kelemahan mereka dan tempat masuknya syahwat. Tidak ada yang dapat melindungi manusia dari godaan setan itu kecuali dengan memperkuat iman dan zikir, memperkuat pertahanan dari penyesatan dan bisikan jahatnya, mengalahkan syahwat dan menundukan hawa nafsu kepada petunjuk Allah.”
Manusia dapat saja berbuat keliru dan lupa. Pada dirinya terdapat kelemahan yang dapat dimasuki setan, ia tidak selamanya patuh dan tidak selamanya istiqomah. Akan tetapi ia dapat mengejar kekeliruannya, mengakui kesalahannya, menyesali perbuatan, dan memohon pertolongan dan ampunan kepada Tuhannya. Karena manusia mempunyai potensi untuk kembali ke jalan yang benar dan bertaubat , tidak keterusan dalam maksiat sebagaimana halnya setan.
Ketika manusia menyadari akan kekeliruannya dan terjatuh dalam kemaksiatan maka ucapan yang keluar adalah seperti ucapan yang keluar dari dari bibir Adam dan Hawa:
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
"Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’rof: 32)
Dengan mengetahui manipulasi iblis tersebut, diharapkan kita menjadi waspada terhadap hal-hal serupa yang menjadi tempat sasaran iblis dalam menggoda dan menyesatkan manusia. Wallahu a’lam bisshowab
PERSELISIHAN
| Perselisihan |
|
|
| Sepintas berselisih itu jelek, tapi nyatanya dilakukan juga oleh orang baik-baik, termasuk oleh orang yang berpendidikan. Karena itu maka tidak semua perselisihan itu buruk. Perselisihan itu menjadi baik, karena dilakukan untuk mendapatkan kebaikan, ialah untuk atau demi keadilan. Sebaliknya perselisihan menjadi jelek, kalau hal itu hanya untuk mengalahkan atau mencelakakan pihak lawan.
|
BEKAL BERSIH SEORANG PEMIMPIN
Lalu apa sesungguhnya yang kiranya perlu dijadikan sebagai bekal agar seorang berhasil tatkala menduduki kursi kepemimpinan. Mengikuti tauladan Rasulullah saw., yang telah berhasil mengubah masyarakat yatsrib menjadi adil, maju, makmur, dan sejahtera, dan kemudian disebut sebagai masyarakat Madinah hingga sekarang ini, pemimpin harus memiliki sifat siddiq, amanah, tabligh, dan fathonah. Keempat sifat itu secara sempurna telah dimiliki oleh Rasulullah dan digunakan sebagai dasar dalam kepemimpinannya.
Sifat-sifat yang disandang oleh Rasulullah., seharusnya diikuti oleh pemimpin yang ingin berhasil. Selain itu, secara teknis operasional, pemimpin perlu memperhatikan beberapa pengalaman orang-orang yang sukses. Saya mengamati dan akhirnya berkesimpulan, bahwa pemimpin zaman sekarang ini, jika mau berhasil, selain memiliki sifat-sifat mulia tersebut, yang bersangkutan harus memiliki setidak-tidaknya empat kelebihan sekaligus, yaitu : (1) memiliki banyak idea tau prakarsa, (2) mau menjalankan idenya itu, (3) berani menanggung resiko atas pelaksanakan idenya tersebut, dan (4) berhasil memberi keuntungan bagi banyak orang.
Keempat hal tersebut harus dimiliki oleh seorang pemimpin secara bersamaan. Namun pada kenyataannya jarang seorang pemimpin yang memiliki keempat kelebihan itu secara sempurna. Setiap orang pada umumnya memiliki satu, dua, atau tiga kelebihan, tetapi jarang yang memiliki keempat-empatnya secara sempurna. Biasanya orang memiliki banyak ide, tetapi tidak mau menjalankan idenya itu. Atau, ada pemimpin yang kaya ide, mau menjalankan idenya, tetapi tidak berani menanggung resikonya. Ada juga seorang yang kaya ide, mau menjalankan program-program kegiatan, dan berani menanggung resiko, tetapi tidak berhasil memberi untung kepada banyak orang. Hal yang demikian itu selalu terjadi dan ada di mana-mana.
Mencari orang yang memiliki keempat kelebihan itu ternyata tidak mudah. Keempat kemampuan itu tidak selalu bisa didapatkan melalui lembaga pendidikan. Kemampuan yang bisa dikembangkan oleh lembaga pendidikan, hanyalah dalam hal memperkaya ide dan menjadikan orang termotivasi untuk menjalankan idenya itu. Sedangkan keberanian untuk mau menanggung resiko, dan apalagi kesediaan untuk mendatangkan untung bagi banyak orang, pada kenyataannya tidak banyak diberikan oleh lembaga pendidikan.
Sekalipun mencari calon pemimpin yang memiliki kelebihan seperti itu sangat sulit, tetapi ternyata tidak selalu disadari oleh banyak orang. Dukungan pada pemimpin, seringkali bukan karena yang bersangkutan itu berkualitas, -------artinya memiliki beberapa kelebihan itu, melainkan didasarkan atas apakah pemimpin dimaksud dirasakan menguntungkan pribadinya. Kepentingan pribadi biasanya lebih mengedepan daripada atas dasar kebutuhan lembaga atau institusinya. Banyak orang berpikiran sangat sempit, yaitu hanya mempertimbangkan di seputar kepentingan pribadi atau golongannya itu.
Pemimpin yang hanya memiliki sebagian kelebihan, tidak selalu bisa bertahan lama. Seorang pemimpin ternyata tidak hanya dituntut untuk membawa kemajuan, tetapi juga harus bisa mendatangkan keuntungan pribadi banyak orang. Kemajuan harus selalu dibarengi dengan datangnya keuntungan. Kemajuan yang tidak mendatangkan keuntungan biasanya tidak selalu mendapatkan dukungan. Dua hal, yaitu maju dan untung harus didatangkan secara bersama oleh pemimpin yang menghendaki keberhasilan.
Atas dasar kenyataan-kenyataan seperti itu, maka mengembangkan lembaga apapun memang tidak mudah dilakukan. Kemajuan sebuah institusi biasanya tergantung pada kualitas pemimpinnya. Sedangkan mencari pemimpin yang menyandang beberapa kelebihan sekaligus sebagaimana disebutkan di muka, tidaklah mudah. Namun hal yang perlu disyukuri, akhir-akhir ini semangat orang menjadi pemimpin cukup tinggi. Semogalah semangat itu diperkaya dengan semua kelebihan-kelebihan seperti disebutkan di muka, agar masyarakat yang dipimpinnya maju. Wallahu a’lam.
Rabu, 18 November 2009
ETIKA MEMIMPIN DALAM AL-QUR,AN
Banyak kisah ditampilkan di dalam al-Quran mempunyai relevansi dengan kehidupan kita sekarang. Al-Quran telah menampilkan sejumlah figur positif dan figur negatif dengan segala akibatnya dalam masyarakat. Salah satu di antaranya adalah kisah Nabi Sulaiman dan Penguasa Saba’.
Banyak kisah ditampilkan di dalam al-Quran mempunyai relevansi dengan kehidupan kita sekarang. Al-Quran telah menampilkan sejumlah figur positif dan figur negatif dengan segala akibatnya dalam masyarakat.
Salah satu di antara figur yang akan dibahas dalam tulisan ini ialah cuplikan kisah Nabi Sulaiman dan Penguasa Saba’, yang diceritakan di dalam beberapa surah al-Quran, khususnya dalam surah an-Naml dan surah
Suatu ketika Nabi Sulaiman menyelenggarakan rapat lengkap, tetapi salah satu peserta rapat yang tidak hadir ialah Hud-hud, utusan bangsa burung; وَتَفَقَّدَ الطَّيْرَ فَقَالَ مَا لِيَ لَا أَرَى الْهُدْهُدَ أَمْ كَانَ مِنَ الْغَائِبِينَ (Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: "Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir? (QS. an-Naml [27]: 20). Nabi Sulaiman marah tetapi kemarahannya dikendalikan oleh kearifannya sebagai seorang pemimpin: لَأُعَذِّبَنَّهُ عَذَابًا شَدِيدًا أَوْ لَأَذْبَحَنَّهُ أَوْ لَيَأْتِيَنِّي بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ (Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya, kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang" (21). فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ (Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: "Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya dan kubawa kepadamu dari negeri Saba’ suatu berita penting yang diyakini, (22). Nabi Sulaiman mendengarkan dan menganalisis secara seksama alasan Hudhud: إِنِّي وَجَدْتُ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ (Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar (23). وَجَدْتُهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُونَ (Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah, dan syetan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk (24).
Sebagai seseorang yang memiliki sense of priority, laporan-laporan dari staf Nabi Sulaiman tidak dipetieskan tetapi langsung segera ditindaklanjuti: اذْهَبْ بِكِتَابِي هَذَا فَأَلْقِهِ إِلَيْهِمْ ثُمَّ تَوَلَّ عَنْهُمْ فَانْظُرْ مَاذَا يَرْجِعُونَ (Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan"). (28). Tidak lama kemudian, burung Hud-hud membawa
Reaksi Pemimpin negeri Saba’ sangat hati-hati menanggapi
Sebagai seorang pemimpin yang punya visi dan kecerdasan yang tinggi, ia sepenuhnya sependapat dengan saran para pembesarnya untuk tidak menggunakan kekerasan di dalam menyikapi suatu persoalan, meskipun ia tidak menafikan kemungkinan itu. Ia menyampaikan strategi yang sebaiknya diambil: وَإِنِّي مُرْسِلَةٌ إِلَيْهِمْ بِهَدِيَّةٍ فَنَاظِرَةٌ بِمَ يَرْجِعُ الْمُرْسَلُونَ (Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu). (35). Ia mengutamakan pendekatan diplomasi selama itu masih memungkinkan. Ia memutuskan untuk mengirimkan bingkisan yang bernilai tinggi kepada Nabi Sulaiman dengan harapan kedua negeri ini menghindari jalan kekerasan. Sementara di pihak lain, Nabi Sulaiman tidak kalah cerdas dan kayanya. Ia menukar bingkisan itu dengan sesuatu yang lebih berharga dengan cara-cara yang amat canggih, sehingga proses penukaran itu tidak sempat dideteksi oleh pasukan Ratu Balqis. Akhirnya, kedua kerajaan ini menyatu dan membangun sinergi dengan cara terhormat dan beradab.
Kecerdasan dan kearifan pemimpin negeri Saba’ mendapatkan pengakuan di dalam al-Quran: لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ ءَايَةٌ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ (Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun"). (Q.S. Saba’/34:15).
Figur Ratu Balqis, pemimpin negeri
Pelajaran berharga yang dapat diperoleh dari kisah di atas adalah sebagai berikut:
1. Kejujuran, konsistensi, kecerdasan, kearifan, keterbukaan, dan sikap demokratis seorang pemimpin merupakan faktor kunci bagi pencapaian tujuan dan cita-cita sebuah bangsa. Sebaik apapun sebuah sistem tidak banyak gunanya tanpa kehadiran figur ideal seperti tadi;
2. Figur yang berpotensi memiliki julukan pemilik ‘arsyun ‘azhim (singgasana besar) sebagai lambang supremasi kewibawaan sebuah negeri dan Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur sebagai simbol ideal sebuah negeri, ternyata tidak hanya terdapat di negeri-negeri yang secara formal mencantumkan Islam sebagai dasar konstitusi, tetapi juga di sebuah bangsa yang secara substansial menerapkan prinsip-prinsip universal Islam;
3. Pemimpin yang sukses tidak mesti hanya dari kalangan pria, tetapi kisah al-Quran di atas membuktikan adanya seorang perempuan, yakni Ratu Balqis, yang berhasil menjadi penguasa sukses;
4. Pola kepemimpinan ideal tidak hanya bisa diterapkan di dalam masyarakat Islam, tetapi juga di dalam masyarakat pluralistik. Dengan kata lain, tanpa harus menunggu untuk menjadi Negara Islam, nilai-nilai dasar kepemimpinan Islami sudah dapat diterapkan. Masyarakat Saba’ yang pada awalnya adalah masyarakat penyembah matahari, tetapi mampu menciptakan sebuah masyarakat yang tangguh dan Islami;
5. Langgengnya sebuah rezim di dalam suatu masyarakat ditentukan oleh seberapa jauh para penguasa dapat mempertahankan nilai-nilai luhur para pendahulunya. Modernitas dan perubahan merupakan sifat alamiah, tetapi mempertahankan nilai-nilai luhur yang masih relevan dan mengakomodir nilai-nilai baru yang lebih positif, itulah yang menjadi inti pola kepemimpinan profetik (kenabian), walaupun menurut Ibn Khaldun hal ini sulit dicapai karena setiap generasi adalah anak zamannya.
6. Faktor lain ialah tingginya partisipasi dan dukungan masyarakat secara komprehensif, yang ditandai dengan hidupnya semangat musyawarah di dalam masyarakat. Hal ini sejalan dengan ayat: وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ (Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. Āli ‘Imran [4]: 159);
7. Figur pemimpin yang diwarnai dengan kecurangan, kerakusan, dan kezhaliman dalam kisah-kisah al-Quran semuanya berakhir dengan kondisi yang memprihatinkan. Sehebat apapun Fir’aun yang pernah melantik dirinya sebagai Tuhan (ana rabbukum al-a’la), tetapi akhirnya tersungkur di lautan kehinaan. Sebaliknya, pemimpin ideal yang bersahaja, memegang teguh amanah, menghargai konstituennya, dan menjauhi segala bentuk ketidakjujuran, semuanya berakhir dengan mengesankan, bahkan dipuji oleh sejarah.
Penutup
Cuplikan kisah tersebut mudah-mudahan membawa inspirasi baru buat kita sebagai anggota masyarakat bangsa
Kondisi bangsa kita yang pluralistik membutuhkan pengertian dan kearifan, baik sebagai pemimpin maupun sebagai rakyat. Kearifan dan kecerdasan seperti yang dimiliki oleh Nabi Sulaiman dan Pemimpin Saba’ perlu juga dimiliki oleh para pemimpin bangsa ini.
HAJI DAN TRADISI ISLAM
SEORANG muslimah pejuang keadilan gender berkesempatan pergi haji.Banyak pengalaman yang mengesankan dan menarik diceritakan.
Salah satunya adalah dia kaget melihat suasana yang egaliter dan membaur antara laki-laki dan perempuandiMasjidHaram, Mekkah. Maklum, gambaran yang berkembang, terutama di Barat, Islam itu mengungkung wanita dan itu ada benarnya jikamelihatrealitassosial di lingkungan Arab Saudi.
Namun dia menjadi kaget dan termenung, bukankah Masjid Haram merupakan pusat Islam? Bukankah di sini, di sekitar Kakbah ini, nilai-nilai dasar Islam dipraktikkan? Dia mengamati hal-hal yang tampaknya sepele, tetapi baginya sangat mendasar.Ketika di masjid, posisi laki-laki dan perempuan sama untuk mengakses ke Kakbah. Posisi depan dan belakang menjadi hilang karena formasinya melingkar.
Ketika tawaf, laki-laki dan perempuan juga berbaur. Ini kontradiksi dengan tradisi sebagian kawan kita yang memisahkan lakilaki dan perempuan ketika menghadiri pesta perkawinan. Di masjid Mekkah saja boleh, apa alasannya kalau suami-istri mesti dipisahkan ketika menghadiri resepsi? Coba saja perhatikan ketika mereka tengah tawaf atau ingin mencium hajar aswad dan mendekat pada dinding Kakbah,semua memiliki hak yang sama.
Semakin dekat dengan Kakbah yang merupakan pengikat dan simbol tauhid, umat Islam, entah laki-laki atau perempuan,terlepas dari mazhab, partai politik,dan kebangsaan mereka, semuanya rukun dan memiliki hak yang sama untuk mendekati Tuhan. Ibarat roda, Kakbah adalah poros pusat yang mempertemukan jeruji.Semakin ke pusat, semakin dekat ruji-ruji itu.
Namun semakin bergerak ke luar, jarak ruji-ruji semakin jauh. Begitulah kondisi psikologis umat Islam.Ketika mereka berada di Masjid Haram mendekat ke Kakbah, perbedaan dan permusuhan lenyap.Artinya, semakin seseorang mendekat pada Allah, semakin kuat imannya, mestinya semakin solid dan kokoh persaudaraannya. Siapa pun yang pernah berhaji tahu dan mengalami, sekalipun jumlah jamaah mencapai sejuta lebih, petugas keamanannya sangat sedikit dibandingkan pertemuan dunia lain, misalnya olimpiade.
Mengapa? Karena mereka lebih takut kepada Allah ketimbang kepada petugas keamanan kalau membuat onar, pertengkaran, dan lebih-lebih perkelahian. Allah berfirman, siapa yang bertengkar dan berbuat dosa, maka hajinya batal. Hanya satu baris firman Allah sudah mampu mengendalikan perilaku sejuta lebih jamaah haji. Saya membayangkan, andaikan ketaatan kepada Allah yang terjadi sewaktu haji juga dibawa pulang ke Tanah Air,betapa maju dan damainya Indonesia ini.
Tak akan ada korupsi dan perkelahian karena keduanya dimurkai Allah. Itulah yang dimaksud dengan menggapai maqam Ibrahim dari ibadah haji, yaitu tekad dan ketundukan total kepada Allah yang dilambangkan dengan kesediaan menyembelih putra kandungnya. Suatu ujian yang amat sangat berat,tetapi Ibrahim lulus.
Beda dari suasana Madinah yang lebih melambangkan peradaban Islam dengan kemegahan Masjid Nabawi dan sejarah perjuangan para sahabat, di Mekkah yang menonjol adalah individu lebur dalam gelombang kemanusiaan, aku hilang ke dalam kami dan kita.Semua mengenakan pakaian ihram sehingga keakuan bermetamorfosis menjadi kekitaan.
Lebih dari itu, pusat Mekkah adalah Kakbah yang tidak tertutup atap sehingga langsung menyambung dengan langit. Ini juga mengondisikan seseorang merasakan kesatuan dengan semesta yang setiap saat juga bertawaf,berputar mengikuti garis edarnya yang telah digariskan Tuhan. Masjid Haram di Mekkah selama 24 jam terbuka dan selama itu pula ritual tawaf tak pernah berhenti.
Asma Allah dan Rasul Muhammad senantiasa terucap dan memasuki orbit semesta. Olah karenanya tak ada sosok sejarah yang namanya paling banyak disebut dan didoakan kecuali Muhammad. Tak ada bandingannya dalam sejarah manusia. Bangunan Kakbah yang berbentuk kubus sangat sederhana,di dalamnya tidak ada apa-apa,tetapi di dalam kesederhanaannya itulah terdapat keagungan dan kemuliaan.
Orang akan kecewa kalau ingin melihat kemegahan bangunan Kakbah karena kemegahan dan keagungan letaknya bukan di sana, melainkan dalam hati dan pribadi setiap muslim yang berziarah ke baitullah itu. Dalam kekosongan itulah yang diharapkan mengisi hanyalah tauhid, kerinduan dan kecintaan kepada Allah.
Sayang sekali, kesederhanaan, keagungan, dan suasana spiritual di sekeliling Kakbah yang berada di dalam Masjid Haram itu terganggu oleh hotel-hotel megah di sekitarnya yang tingginya jauh melebihi bangunan masjid. Bahkan nama-nama hotel itu juga terkesan sangat berbau Barat sehingga menimbulkan interupsi kulturalpsikologis. Ketika jumlah penduduk muslim di dunia semakin meningkat, peminat untuk berhaji juga ikut meningkat.
Namun sangat disayangkan pembangunan sarana serta pengaturan bagi tamu-tamu Allah tidak seimbang sehingga setiap tahun mesti muncul problem dan keluhan dari jamaah haji.Bagi Pemerintah Indonesia, ini akan menimbulkan masalah tersendiri mengingat jumlah haji Indonesia paling banyak, sementara masyarakat kita pemakan nasi, bukan roti,sehingga cukup merepotkan.
Sampai kapan pun kalau Pemerintah Arab Saudi tidak melakukan perbaikan manajemen dan sarana haji secara rasional dan memadai, persoalan penyelenggaraan haji akan selalu muncul, siapa pun yang menjadi menteri agama. Kembali pada judul di atas, mestinya suasana persaudaraan, toleransi, kelapangan, kesucian, dan kesederhanaan yang diraih di Mekkah dibawa pulang ke Tanah Air mengingat pesan dan adegan haji itu secara substansial pada hakikatnya adalah dalam kehidupan sehari-hari di Tanah Air. Entah itu pesan tawaf, wuquf, sa’i, melempar jumrah, kesemuanya itu yang paling berat bukannya dilakukan di tanah Arab, melainkan di Tanah Air. (*)
AWAN HITAM PEMERINTAHAN SBY
Di tengah turbulensi kasus ala mafioso yang diduga melibatkan Anggodo, oknum kepolisian dan kejaksaan, Presiden SBY telah resmi menjabarkan program 100 hari pemerintahannya, Kamis (5/11). Pengumuman yang seyogianya penting dan ditunggu ini, bak gelembung air sabun yang hadir lantas menghilang tanpa impresi apalagi apresiasi publik yang cukup memadai. Nampak ada sikap apatis yang berkembang di masyarakat, hingga menempatkan prioritas program pemerintah bukan lagi sebagai prioritas perhatian khalayak. Tentu, hal ini menjadi sinyal buruk bagi perjalanan pemerintahan SBY jilid II yang baru seumur jagung. Jika tidak diantisipasi, dapat menjadi noktah hitam yang menempatkan SBY di titik nadir.
Lima belas program prioritas kinerja 100 hari idealnya berbanding lurus dengan langkah kongkrit yang bisa menunjukkan bahwa SBY serius membangun good and clean governance. Masyarakat tentu menyadari bahwa program 100 hari, tidak dalam konteks penuntasan segala masalah negeri ini. Namun, apapun prioritas yang dicanangkan tidak akan memberi landasan positif bagi performa pemerintahan SBY, jika tak mampu menghilangkan noktah hitam yang kini mulai menghiasi pemerintahannya. Kita melihat banyak persoalan krusial yang berpotensi mengganggu citra dan agenda kerja 100 hari.
Pertama, terjadi paradoks antara prioritas menjadikan pemberantasan mafia hukum di urutan tertinggi dengan kebijakan yang diambil. Untuk merealisasikan prioritas pemberantasan hukum, tak cukup hanya dengan menunjukkan langkah-langkah sloganistik. Misalnya, hanya dengan memperkenalkan kode GM (ganyang mafia) untuk pengaduan masyarakat mengenai mafia hukum yang akan dikirim ke PO Box 9949.
Ada banyak momentum yang sesungguhnya bisa digunakan SBY untuk menunjukkan komitmen kuat upaya pemberantasan mafia hukum, tapi tidak dioptimalkannya. Satu diantara momentum tersebut adalah kasus rekayasa hukum dan kriminalisasi pimpinan KPK yang jelas-jelas menggugah perhatian sekaligus keprihatinan publik. Nampaknya sinyal yang terpancar dari SBY sangat lemah bahkan nyaris tak terdengar. Sebaliknya opini publik kian mengkristal dan keras mempertanyakan penyelsaian kasus ini.
Ibarat permainan bola, SBY menerapkan strategi grendel yang menjemukkan. Pergerakannya konservatif, tak ada terobosan bahkan cenderung berlindung di belakang tokoh-tokoh yang diterima luas oleh khalayak agar opini publik tidak langsung menghantamnya. SBY sangat sadar, kasus rekayasa hukum dan kriminalisasi pimpinan KPK ini merupakan kasus krusial. Hal ini dapat menjadi kotak pandora bagi terbukanya tindakan korupsi berjamaah lainnya. Kita tentu masih ingat, saat opini publik keras menghantam SBY soal keluarnya Perpu Plt Pimpinan Sementara KPK, dengan sangat cerdik SBY membentuk Tim5 sehingga suara keras masyarakat seolah teredam sementara oleh para tokoh yang tergabung di tim ini.
Begitupun saat publik mulai menuntut langkah kongkret SBY terkait kasus kriminalisasi pimpinan KPK, strategi yang sama dilakukan SBY dengan membentuk Tim-8. Tokoh-tokoh masyarakat yang tergabung di tim tersebut, harus berjibaku mengurai benang kusut kasus ini. Ujung cerita tim seperti ini pun sudah bisa diprediksi, yakni sebatas rekomendasi yang sepertinya tak akan banyak didengar oleh pihak-pihak terkait dengan kasus ini.
Inilah permainan jaga citra ala safety player yang benar-benar menjemukan. Belum genap 100 hari pemerintahan SBY-Boediono berjalan, pesimisme publik kian menguat. Protes ketidakpuasan semakin aktual, dimulai dari ruang maya (virtual) seperti di Facebook, Twitter, Netlog, milist, blog hingga merebak menjadi gerakan massa di jalanan. Kini, hampir setiap hari kita saksikan demonstrasi terkait desakan penyelsaian masalah Anggodo dkk, tak hanya di Jakarta melainkan juga di kota-kota lain.
Kedua, SBY mempraktikkan presidensialisme setengah hati. Berbagai prioritas program 100 hari tidak hanya bergantung pada bagusnya konsep tapi juga pada pelaksananya. Ironis memang, presiden yang memiliki sumberdaya politik meyakinkan gagal membentuk zaken kabinet sebagai prasyarat optimalisasi program-program prioritas tadi. Seperti kita ketahui, SBY mengantongi dukungan 60,80 % suara dalam Pilpres, kurang lebih 423 anggota DPR potensial berada di belakangnya, dukungan kaum teknorat ekonomi hingga dukungan dari luar negeri terutama Amerika yang memadai. Sumberdaya politik tersebut bukannya menciptakan akselerasi, justru sebaliknya menjadi kontra produktif karena kabinet dibangun melalui politik akomodasi.
Kita menghargai pilihan SBY saat memilih para pembantunya sebagai bentuk hak prerogatif presiden sekaligus konsekuensi presidesialisme. Kita juga menaruh hormat pada pernyataan SBY beberapa waktu lalu, bahwa harus ada monoloyalitas para menteri terhadap presiden. Persoalannya, mengapa dalam praktikknya SBY tak tegas melarang para menterinya untuk merangkap jabatan di partai politik?
Prioritas Krisis
Dalam manajemen krisis seperti sekarang ini, diperlukan langkah-langkah terobosan yang harus dilakukan oleh SBY untuk menumbuhkan kembali kepercayaan publik pada pemerintahannya.
Pertama, ada keberanian SBY untuk menunjukkan kepada publik bahwa saat nama baik RI-1 dicemarkan SBY harus melakukan upaya hukum, jangan membiarkan kasus ini. Kedua, SBY harus menjamin bahwa hasil kerja Tim-8 tak akan sia-sia. Berbagai fakta yang nantinya akan mengerucut pada rekomendasi, jangan hanya berhenti di meja Presiden. Tim-8 bukan bekerja untuk sebuah program realityshow yang bisa meninabobokan rakyat, melainkan bertujuan menemukan kebenaran guna memenuhi rasa keadilan masyarakat. Rekomendasi harus kuat dan mengikat.
Ketiga, SBY harus berani melakukan reformasi birokrasi. Oknum kepolisian dan kejaksaan yang terlibat ditindak, bahkan Kapolri dan Jaksa Agung harus diganti. SBY juga harus tegas bahwa seluruh menteri di kabinet tak boleh lagi menduakan waktu dan loyalitas mereka dengan tanggungjawab besarnya di partai politik terlebih jika masih menjabat ketua partai. Performa positif pemerintah SBY akan muncul dengan sendirinya jika citra dan agenda pemerintah SBY memberi harapan kuat akan perubahan dan tak melukai rasa keadilan rakyat Indonesia.
