Jumat, 29 Januari 2010

ZIKIR BERJAMAAH DENGAN SUARA KERAS

Berkumpul di suatu tempat untuk berdzikir bersama hukumnya adalah sunnah dan merupakan cara mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hadits-hadits yang menunjukkan kesunnahan perkara ini banyak sekali, diantaranya.

مَا مِنْ قَوْمٍ اجْتَمَعُوْا يَذْكُرُوْنَ اللهَ لَا يُرِيْدُوْنَ بِذَالِكَ إلَّا وَجْهَهُ تَعَالَى إلَّا نَادَاهُمْ مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ قُوْمُوْأ مَغْفُوْرًا لَكُمْ –أخرجه الطبراني

Tidaklah suatu kaum berkumpul untuk berdzikir dan tidak mengharap kecuali ridla Allah kecuali malaikat akan menyeru dari langit: Berdirilah kalian dalam keadaan terampuni dosa-dosa kalian. (HR Ath-Thabrani)

Sedangkan dalil yang menunjukkan kesunnahan mengeraskan suara dalam berdzikir secara umum di antaranya adaah hadits qudsi berikut ini. Rasulullah SAW bersabda:

يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: أَناَ عِنْدَ ظَنِّي عّبْدِي بِي وَأنَا مَعَهُ عِنْدَ ذَكَرَنِي، فَإنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرًا مِنْهُ –منقق عليه

Allah Ta’ala berfirman: Aku kuasa untuk berbuat seperti harapan hambaku terhadapku, dan aku senantiasa menjaganya dan memberinya taufiq serta pertolongan kepadanya jika ia menyebut namaku. Jika ia menyebut namaku dengan lirih Aku akan memberinya pahala dan rahmat dengan sembunyi-sembunyi, dan jika ia menyebutku secara berjamaah atau dengan suara keras maka aku akan menyebutnya di kalangan malaikat yang mulia. (HR Bukhari-Muslim)

Dzikir secara berjamaah juga sangat baik dilakukan setelah shalat. Para ulama menyepakati kesunnahan amalan ini. At-Tirmidzi meriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah SAW ditanya:

أَيُّ دُعَاءٍ أَسْمَعُ؟

“Apakah Doa yang paling dikabulkan?”

Rasulullah menjawab:

جَوْفُ اللَّيْلِ وَدُبُرُ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوْبَاتِ – قال الترمذي: حديث حسن

“Doa di tengah malam, dan seusai shalat fardlu." (At-Tirmidzi mengatakan, hadits ini hasan.

Dalil-dalil berikut ini menunjukkan kesunnahan mengeraskan suara dalam berdzikir secara berjamaah setelah shalat secara khusus, di antaranya hadits Ibnu Abbas berkata:

كُنْتُ أَعْرِفُ إنْقِضَاءِ صَلَاةِ رَسُوْلِ اللهِ بِالتَّكْبِيْرِ – رواه البخاري ومسلم

Aku mengetahui selesainya shalat Rasulullah dengan takbir (yang dibaca dengan suara keras)”. (HR Bukhari Muslim)

أَنَّ رَفْعَ الصّوْتِ بِالذِّكْرِ حِيْنَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوْبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ – رواه البخاري ومسلم

Mengeraskan suara dalam berdzikir ketika jamaah selesai shalat fardlu terjadi pada zaman Rasulullah. (HR Bukhari-Muslim)

Dalam sebuah riwayat al-Bukhari dan Muslim juga, Ibnu Abbas mengatakan:

كنت أعلم إذا انصرفوا بذالك إذا سمعته – رواه البخاري ومسلم

Aku mengetahui bahwa mereka telah selesai shalat dengan mendengar suara berdikir yang keras itu. (HR Bukhari Muslim)

Hadits-hadits ini adalah dalil diperbolehkannya berdzikir dengan suara yang keras, tetapi tentunya tanpa berlebih-lebihan dalam mengeraskannya.

WASIAT IMAM SAFI 'I PADA PARA PENDIDIK

Proses belajar mengajar sudah berlangsung beberapa minggu, guru-guru sudah menjalankan tugasnya masing-masing untuk mendidik generasi penerus. Sebuah tugas mulia yang bernilai pahala, yang akan selalu mengalir bersamaan dengan bermanfaatnya ilmu tersebut bagi orang yang menerimanya. Sebagaimana hadist dari Rosulullah yang diriwayatkan oleh Imam-Imam Hadist: “Apabila anak adam meninggal dunia, maka putuslah semua amalnya kecuali tiga perkara: Shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang sholeh.” (Muslim, Abu Dawud, Tirmizi, Ahmad & Nasaai)

Suatu hari imam Syafi’i mendatangi ruang Khalifah Harun Ar-Rasyid untuk minta izin kepadanya. Lalu beliau duduk di samping Abu Abdus Shomad seorang pendidik anak-anak Kholifah Harun Al-Rosyid. Seorang bernama Siraj berkata kepada Imam Syafi’i, “Wahai Abu Abdullah, mereka ini adalah anak-anak Amirul mukminin, dan ia Abu Abdus Shomad adalah pendidik mereka. Kalau sekiranya engkau berkenan, berikanlah nasehat kepadanya!”.

Imam Syafií lalu berkata kepada Abu Abdus Shomad :

“Hendaklah satu hal yang pertama dimulai dalam mendidik anak-anak Amirul Mukminin adalah memperbaiki dirimu. Mata-mata mereka bergantung pada matamu. Dan kebaikan mereka adalah kebaikan apa yang engkau lakukan. Keburukan bagi mereka adalah sesuatu yang kau benci. Ajarkanlah mereka kitabullah, janganlah engkau memaksakan mereka sehingga mereka bosan. Dan janganlah kau meninggalkan mereka dari Al-Quran lalu mereka akan meninggalkannya. Kemudian ceritakan kepada mereka dari hadits-hadits yang mulia dan pepatah nasehat. Dan janganlah kau ajarkan kepada mereka suatu ilmu kemudian pindah kepada ilmu yang lain sehingga mereka memahaminya. Maka sesungguhnya perkataan yang bertumpuk-tumpuk dalam pendengaran akan menyusahkan pemahaman”. (Mauqif Fii Az-Zuhd wa-Roqoiq: 70)

Nasehat yang penuh hikmah dari seorang ulama besar itu, tentu bukan hanya bermanfaat untuk Abu Abdus Shomad yang mendidik anak khalifah. Namun nasehat agung itu adalah untuk semua pendidik. Tampilan guru kadang akan membuat para murid semangat belajar ataupun sebaliknya menjadi malas dan takut. Bahkan karena keteladanan sang guru tersebut, ada di antara murid-murid bercita ingin menjadi seperti guru tersebut. Seperti suatu ketika di acara kelulusan TK , anak-anak yang masih polos itu ditanya apakah cita-cita mereka nanti? Maka di antara jawaban yang keluar dari bibir mereka: “Aku nanti ingin menjadi seperti ibu guru”.

Bukan mustahil jawaban itu muncul karena ia senang dengan gurunya yang mengajarkan ia membaca Al-Quran, Hadist dan menghapal doa-doa. Semoga nilai-nilai mulia Al-Quran dan Sunah serta ilmu-ilmu yang bermanfaat selalu dapat ditransfer oleh para pendidik kepada murid-muridnya dengan pemahaman yang benar dan selalu menjadi teladan mereka.

Rabu, 27 Januari 2010

MENUJU HIDUP SUKSES DUNIA DAN AKHIRAT

orang tua kita bangga jika anak-anaknya sukses. Bahkan semua orang juga bangga jika mereka sukses. Setiap orang memiliki paradigma tersendiri tentang konsep sukses. Ada sebagian yang berpendapat sukses itu adalah jika hartanya sudah melimpah, pangkatnya sudah tinggi dan mentok, jodohnya cantik atau tampan, anak-anak-anaknya telah mapan, sekolahnya sudah sampai S3, gelarnya sudah berderet, dan seterusnya. Harta, pangkat, dan jabatan yang sering kali dijadikan tolak ukur kesuksesan, dalam praktiknya kerap menjerumuskan orang pada kesesatan.
Semoga Allah Yang Maha Kuasa mengaruniakan kepada kita kehati-hatian atas kesuksesan. Sebab, orang yang diuji dengan kegagalan ternyata lebih mudah berhasil dibandingkan mereka yang diuji dengan kesuksesan.
Banyak orang yang tahan menghadapi kesulitan, tapi sedikit orang yang tidak tahan ketika menghadapi kemudahan. Ada orang yang bersabar ketika tidak mempunyai harta, tapi banyak orang yang tidak bisa mengendalikan diri saat dikaruniai harta yang melimpah. Ternyata, harta, pangkat, dan jabatan yang sering kali dijadikan tolak ukur kesuksesan, dalam praktiknya kerap menjerumuskan orang pada kesesatan.
Apa sebenarnya kesuksesan itu menurut Islam? Boleh jadi setiap orang memiliki pandangan berbeda mengenai kesuksesan. Namun secara sederhana, sukses bisa dikatakan sebagai keberhasilan akan tercapainya sesuatu yang telah ditargetkan. Dalam pandangan Islam, kesuksesan tidak sekadar aspek duniawi belaka, tapi menyentuh pula aspek ukhrawi.
Syarat disebut sukses, setidaknya ada lima hal. Yaitu:
1. Disebut sukses, apabila aktivitas yang kita lakukan menjadi suatu ibadah yang berpahala. Apalah artinya kita banyak berbuat kalau tidak bernilai ibadah yang berpahala.
2. Disebut sukses, apabila nama dan citra kita semakin baik. Apalah artinya kita mendapatkan uang, mendapatkan harta atau kedudukan kalau nama dan citra kita coreng-moreng.
3. Disebut sukses, apabila kita terus bertambah ilmu, pengalaman, dan wawasan. Apalah artinya jika harta bertambah, tetapi ilmu dan pahala tidak bertambah. Bila ini yang terjadi, kita hanya akan terjebak oleh harta yang kita miliki.
4. Disebut sukses, apabila kita dapat menjalin silaturahmi dengan orang lain, sehingga bertambah saudara. Apalah artinya mendapatkan uang dan kedudukan, tetapi musuh kita bertambah banyak. Dengan terjalin silaturahmi, insya Allah akan semakin banyak orang yang mencintai kita. Bila orang sudah cinta, maka ia akan mengerahkan ilmunya untuk menambah ilmu kita, mencurahkan wawasannya untuk mengembangkan wawasan kita, serta memberikan tenaga dan hartanya untuk melindungi kita.
5. Disebut sukses, apabila pekerjaan yang kita lakukan dapat memberikan manfaat yang besar kepada orang lain. Rasulullah SAW bersabda, "Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling banyak manfaatnya kepada manusia yang lain". Semakin banyak menjadi jalan kesuksesan bagi orang lain, maka semakin sukseslah diri kita.

Pada hakikatnya kesuksesan itu milik setiap orang. Yang menjadi masalah, tidak semua orang tahu bagaimana cara mendapatkan kesuksesan itu. Setidaknya ada sembilan SOLUSI ISLAM untuk meraih kesuksesan. Kesembilan teknik ini harus ada semuanya, jika salah satu tidak ada, maka belum bisa dikatakan sebuah kesuksesan.
1. Mengenal siapa sebenarnya diri kita ini. Manusia yang mengenal siapa hakikat dirinya sendiri maka dia akan mengenal siapa yang menciptakan kita. Kita adalah HAMBA ALLAH, tugas kita adalah beriman dan beribadah kepada Allah. Kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah.
2. Menjalankan ibadah dengan benar. Ibadah adalah fondasi dari niat, fondasi dari track yang akan kita buat. Siapapun yang ingin membangun kesuksesan, ia harus memperbaiki ibadahnya. Perbaiki, terus perbaiki ibadah. Siapa yang akan membimbing kita jika ibadah kita buruk? Siapa yang akan melindungi kita dari ketergelinciran kalau ibadah kita tidak jalan? Bukankah Allah SWT berjanji akan menolong orang-orang yang ibadahnya baik. Intinya, ibadah adalah fondasi yang akan membuat kita agar senantiasa terjaga dalam jalur yang tepat.
3. Menghiasi diri dengan akhlak baik. Akhlak yang baik adalah bukti dari ibadah yang benar. Apapun yang kita lakukan, kalau dilandasi akhlak yang buruk niscaya akan berakhir dengan kehancuran. Apa yang dimaksud akhlak yang baik itu? Merespons segala sesuatu dengan sikap yang terbaik.
4. Memotifasi diri untuk belajar tiada henti. Karena itu, pertanyaan yang harus kita ajukan adalah apakah kita menyukai belajar? Setiap hari masalah bertambah, kebutuhan bertambah, dan situasi berubah. Bagaimana mungkin kita menyikapi situasi yang terus berubah dengan ilmu yang tidak bertambah!
5. Membangkitkan semangat bekerja keras dengan cerdas dan ikhlas. Curahan keringat tak selalu identik dengan kesuksesan. Berpikir cerdas adalah merupakan bagian dari kerja keras. Pada prinsipnya, sebuah hasil yang maksimal akan diraih bila kita mampu mengaktualisasikan ibadah, akhlak, dan ilmu kita dalam pekerjaan yang berkualitas.
6. Menghiasi hidup dengan kesahajaan dan kesederhanaan. Ini poin yang sangat penting. Banyak orang bekerja keras dan mendapatkan apa yang dia inginkan, tetapi dia tidak dapat mengendalikan dirinya. Bersahaja dan sederhana itu bukan miskin, bersahaja dan sederhana adalah menggunakan sesuatu sesuai keperluan. Dengan bersahaja dan sederhana kita akan memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri dengan tidak diperbudak keinginan.
7. Membantu sesama. Gemar membantu orang lain adalah tanda kesuksesan. Kita harus gigih agar kelebihan yang kita miliki dapat menjadi nilai tambah bagi sesama.
8. Membersihkan hati selalu. Bila hati kita berpenyakit, maka akan tumbuh rasa ujub, ria, sum'ah, takabur, dan lainnya. Kondisi ini akan membuat amal-amal kita tidak berarti; tidak indah lagi di dunia dan tidak berkah lagi untuk akhirat. Allah SWT berfirman, Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat (QS. Asy-Syu'ara: 88-89).
9. Mensyukuri segala karunia Allah, dengan banyak bersedekah, membantu saudara kita yang membutuhkan bantuan dan banyak bersujud syukur atas limpahan rezeki dan kesuksesan yang melimpah ini.

Andaikata SOLUSI ISLAM ini kita lakukan dengan baik, Insya Allah akan berdampak untuk kesuksesan diri, berdampak pada lingkungan, berdampak pada masyarakat, berdampak pada negara, berdampak pada alam semesta dan pada saat yang sama berdampak pula pada kesuksesan kita di akhirat.

Senin, 25 Januari 2010

DAMPAK KEJUJURAN

Salah satu sifat yang berpengaruh besar pada tindakan seseorang adalah kejujuran. Pekerjaan yang dilakukan secara individual atau kelompok akan gagal manakala kebohongan terjadi. Krisis bangsa ini pun terjadi karena transparansi sangat mahal harganya. Istilah “kebohongan publik” makin populer dalam pemberitaan media cetak maupun elektronik. Masyarakat juga dibosankan dengan berbagai kilah dan dalih yang bermunculan.



Kejujuran masih sulit didapatkan ketika proses penataan kehidupan berbangsa dan bernegara. Setiap kita mendengar dugaan korupsi yang merugikan negara trilyunan rupiah, menguap begitu saja tanpa penyelesain hukum yang berarti. Bahkan, fungsi hukum yang telah melahirkan “kebohongan legitimate” tidaklah berlebihan. Pasal-pasal karet pun jadi primadona, untuk melindungi para tersangka. Persidangan dihadirkan lengkap dengan berbagai atraksi putar-balik ayat dan pasal.



Situasi ini nampaknya harus dicarikan obat agar tidak menjadi budaya masyarakat. Ada satu kisah menarik tentang sahabat Rasulullah yang mengaku punya kebiasaan mabuk, judi, zina dan sifat jelek lainnya. Ia meminta kepada Rasullah satu petuah agar bisa jadi muslim yang shalih. Nabi bersabda “Kamu jangan berbohong”. Lalu orang tersebut, berkata “cuman itu, ya Rasulullah”. “Iya, laksanakanlah nanti datang lagi ke saya” kata nabi.



Selanjutnya, ketika ingin melakukan judi, dia berguman dalam hatinya, “kalau aku melakukan kebiasaan itu, dan nabi bertanya kepadaku, bagaimana nanti aku menjawabnya, sementara tidak boleh berbohong” . Akhirnya perbuatan itu tidak terulang lagi, setiap dia mengingat pesan Nabi. Efeknya, bukan saja telah menghentikan kebiasaan judi, tapi semua perbuatan terjela yang biasa dia lakukan.



Lewat beberapa hari, nabi bertemu dengannya dan bertanya “Apakah kamu masih melakukan perbuatan tercela yang pernah kamu ceritakan?” . Orang itu menjawab “ Semuanya sudah saya tinggalkan ya Rasulullah”. “Kenapa ?” , lanjut Nabi. Dengan enteng orang itu menjawab “Setiap kali aku ingin melakukannya, dilanda kebingunan tentang jawabannya padahal paduka menyuruh untuk tidak bohong”.



Begitulah sekelumit efek domino dari kejujuran yang dapat dijadikan pelajaran. Kalau saja para pemimpin memahaminya, niscaya negeri ini tidak terperosok ke dalam krisis yang sekarang terjadi. Masih banyak perbuatan dan perkataan dari para pemimpin kita yang paralel dengan dugaan tindak pindana korupsi. Kecuali informasi tidak utuh, penyelesainnya pun tidak pernah tuntas.



Peristiwa sahabat nabi di atas, sebenarnya akan jadi penangkal kalaupun peraturan perundangan-undangan yang ada bisa melindungi dirinya. Tinggal bagaimana para pemimpin memberikan tauladan dengan melakukannya langsung (ibda bi nafsik). Tidak menjadi retorika manis ketika bicara di publik, akan tetapi bersemai dalam setiap tugas mengemban amanat kepemimpinannya.Wa Allah ‘alam bi shawab.

Sabtu, 23 Januari 2010

ISTRI TETANGGA TERLIHAT LEBIH CANTIK

Dalam kehidupan sehari-hari, sering terjadi adanya persaingan antar rumah tangga. Ketika kita melihat tetangga kita bisa beli TV baru misalnya, kita mengira bahwa kehidupan rumah tangga tetangga kita itu sejahtera, mewah dan tentram. Sehingga kita membayangkan alangkah bahagianya saya seandainya juga bisa membeli TV seperti itu. Padahal kita tidak tahu apa yang terjadi pada keluarga tersebut setelah mereka membeli TV tersebut.

Ada satu ilustrasi yang dapat menggambarkan tentang prilaku kita yang selalu melihat rumput tetangga kelihatan lebih hijau ini, dari kehidupan ikan lele atau mungkin semua jenis ikan pada umumnya. Saya adalah orang yang dari dulu senang memelihara ikan. Dari kecil saya telah terbiasa memelihara ikan, baik di kolam yang besar maupun kecil. Mungkin karena saya hidup di kampung yang airnya cukup mudah didapat, sehingga ikan mudah dibudidayakan di tempat saya. Di antara ikan yang pernah saya budi dayakan adalah ikan lele dan gurami. Setiap tahunnya saya bisa memelihara sekitar 25.000 hingga 50.000 ekor lele dan 10.000 ikan gurami. Baru setelah saya pindah ke Malang, hobi saya membudidayakan ikan itu tidak tersalurkan lagi karena tidak adanya lokasi untuk membudidayakannya. Namun

Di antara kebiasaan ikan lele adalah suka melompat di tempat yang ada suara gemerincing air. Setiap ada air yang menetes dari suatu tempat, misalnya pipa atau saluran air, maka dia akan berkumpul di tempat itu dan berusaha untuk melompat ke atas karena beranggapan bahwa di atas pasti ada air yang lebih baik dan lebih jernih, meskipun dia tidak tahu bahwa yang ada di atas sebenarnya bukan genangan air, tetapi justru tanah kering yang tidak berair.

Pernah suatu hari, saya menaruh beberapa ikan lele ke dalam ember dengan sedikit air agar tidak melompat. Supaya tidak mati, maka kita beri sedikit aliran air ke dalam ember melalui kran meskipun hanya menetes saja. Setelah itu kita tinggal pergi ke sekolah. Sepulang dari sekolah, semua ikan lele tersebut sudah mati di atas tanah karena melompat keluar dari ember. Mungkin mereka beranggapan, jika ada air menetes dari atas, pasti di atas ada air yang lebih besar dan lebih segar daripada air ember yang ditempatinya. Akhirnya mereka melompat dari ember. Begitu melompat ternyata bukannya air yang didapat, tetapi justru tanah kering yang tidak berair, sehingga mereka semua mati kehausan.

Pelajaran yang dapat kita ambil dari nasib ikan lele di atas adalah bahwa kita harus bisa mensyukuri apa yang ada pada kita pada saat ini. Sebagai manusia, biasanya kita menganggap bahwa nasib orang lain selalu lebih baik daripada nasib kita. Kita selalu beranggapan bahwa rumput tetangga lebih hijau daripada rumput kita sendiri. Orang jawa bilang, hidup adalah sawang-sinawang. Kita melihat sepertinya tetangga kita hidupnya enak, pakaiannya bagus, kendaraannya mewah dan sebagainya, tetapi pada hakikatnya kita tidak tahu bahwa dia sedang kalang kabut dirundung hutang atau dikejar-kejar KPK, setelah itu bangkrut dan dipenjara.

Seperti memakai baju, ketika kita melihat baju baru dipakai oleh seseorang yang kelihatan cantik atau tampan ketika memakai baju tersebut, kita mengatakan, alangkah bagus dan indahnya baju itu, harganya pasti mahal, padahal kita tidak tahu bahwa sebenarnya baju itu panas dan mungkin terasa gatal ketika dipakai dan orang yang memakainya itu sebenarnya ingin segera melepasnya karena merasa panas dan gatal.

Sebagai dosen atau guru di suatu lembaga pendidikan, biasanya kita juga sering mengeluh bahwa nasib kita kurang sejahtera dibandingkan dengan kampus atau lembaga pendidikan sebelah. Kita menganggap kesejahteraan kita selalu kurang bila dibandingkan dengan mereka, sehingga kita ingin berbondong-bondong pindah kesana. Tetapi sesaat kemudian kita melihat, banyak lembaga-lembaga itu yang gulung tikar dan macet karena tidak memiliki mahasiswa atau murid.

Sebagai pegawai selalu beranggapan bahwa bagian tertentu seperti bagian keuangan kelihatan lebih basah daripada bagian lainnya, sehingga banyak orang yang ingin segera pindah ke bagian itu. Padahal kita tidak tahu bahwa tugas dan tanggung jawab mereka sangat besar dan sulit. Setiap hari mereka harus lembur dan bahkan banyak yang mengeluh karena beban kerja yang menumpuk. Banyak di antara mereka yang ingin segera dipindah ke bagian yang lebih ringan tugasnya, sehingga mereka bisa bersantai dengan keluarga dan teman-teman.

Sebagai mahasiswa, terutama di UIN Maliki Malang, banyak yang beranggapan bahwa di UB, UM dan perguruan tinggi lain lebih baik karena begini dan begitu. Tetapi begitu diselami, ternyata sama saja, mungkin apa yang tampak dari luar hanyalah gebyarnya saja yang kelihatan bagus, karena kita tidak tahu apa yang ada di dalamnya.

Seperti Gunung Putri Tidur di daerah pegunungan Batu Malang, yang kelihatan begitu indah seperti gadis cantik yang sedang tidur telentang jika dilihat dari jauh, terutama dari desa Gasek tempat saya tinggal. Tetapi begitu kita dekati gunung itu, ternyata di dalamnya ada lembah dan jurang yang curam dan berbahaya. Bisa-bisa kita jatuh di dalamnya dan meninggal dunia jika kita tidak berhati-hati dalam mendakinya. Berapa banyak para pendaki gunung Putri Tidur yang telah tewas dan tersesat karena ingin menikmati keindahan gunung Putri Tidur tersebut.

Akhirnya sekali lagi perlu saya tegaskan bahwa kita harus selalu bersyukur dengan apa yang ada. Seperti kata Demasive dalam syair lagunya, “Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah. Tetap jalani hidup ini dan lakukan yang terbaik. Tuhan pasti kan menunjukkan, kebesaran dan kuasanya, bagi hamba-Nya yang sabar dan tak pernah putus asa…jangan menyerah… dan jangan menyerah… Wallahu a’lam bishawab.

Rabu, 20 Januari 2010

HIDUP SUKSES MENURUT SURAT AL-ASHR

Pendahuluan

Surat al-‘Ashr terdiri dari tiga ayat. Menurut Ibnu ‘Abbas, Abdullah bin Zubair, dan Jumhur Ulama, surat ini diturunkan di Mekah. Namun Mujahid, Qatadah, dan Muqatil berpendapat bahwa surat ini diturunkan di Madinah sesudah surat al-Insyirah. Teks surat sebagai berikut:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.”


Hidup Sukses

Jika surat al-‘Ashr ini diamati secara seksama, maka akan kita temui rumusan konsep hidup manusia sukses di dunia dan di akhirat. Pada surat ini tergambar tentang problem kehidupan manusia yang tidak mampu memanfaatkan waktu dan kesempatan dengan seefektif mungkin; begitu juga semua karya mereka tidak dilandasi oleh motifasi iman; sehingga kehidupan mereka diklaim oleh Allah SWT sebagai kehidupan yang merugi (Khusr).



Kerugian tersebut bisa berwujud dalam bentuk duniawi ataupun ukhrawi. Bentuk kerugian duniawi misalnya seseorang yang tidak dapat mempergunakan waktunya dengan baik, apalagi menyia-nyiakannya, maka kehidupan orang tersebut akan mengalami banyak kesulitan; dan akan tipislah tercapainya tujuan; atau besar kemungkinan cita-citanya gagal.



Begitu pula halnya orang yang terlalu memusatkan perhatiannya terhadap materi duniawi, sementara ia melupakan kehidupan ukhrawi, kehidupan seperti inipun akan mendapatkan kerugian besar. Pada prinsipnya sejumlah harta yang dikumpulkan itu tidak ada manfaatnya--jika tidak digunakan dalam hal-hal yang positif karena ketika seseorang meninggal dunia maka seluruh harta itu akan ditinggalkan dengan begitu saja.



Berdasarkan pertimbangan di atas, Allah SWT memberikan peringatan (tazkirah) yaitu diawalinya surat ini dalam bentuk qasam. Ia menggunakan muqsam bihnya dengan al-‘ashr; hal ini memberikan isyarat bahwa faktor waktu/kesempatan dan pemanfaatannya merupakan prasyarat penting yang akan mengantarkan manusia hidup sukses di dunia dan di akhirat. Allah SWT sangat sayang kepada hamba-Nya dengan memberikan jalan keluar dalam bentuk rumusan konsep hidup manusia sukses.


Unsur Hidup Sukses

Untuk terwujudnya hidup sukses menurut surat ini ada 4 unsur yang harus dipenuhi, dan kesemua unsur tersebut saling terkait, yaitu:

1. Iman yang mantap.

Persyaratan utama untuk mengarungi kehidupan di dunia ini adalah adanya pembekalan iman yang mantap yang bersumber dari hati sanubari yang suci. Iman dalam artian membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan merealisasikannya dalam bentuk perbuatan-perbuatan positif yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw yang tertuang di dalam Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah.



Dengan bekal iman, seseorang hanya menyembah kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa; dan dengannya akan muncullah pada pribadi orang tersebut adanya rasa persamaan, rasa solidaritas sosial yang tinggi, dan rasa penghargaan atas hak-hak asasi manusia (HAM) sesamanya. Sebab, pada hakikatnya, manusia tidak ada yang lebih tinggi, dan atau tidak ada yeng lebih hina kecuali orang-orang yang dimuliakan oleh Allah yaitu orang-orang yang bertakwa. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. 49: 13 yang berbunyi:



“...Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu...”. (QS. Al-Hujurat/49: 13).



Di samping itu, iman merupakan dasar dan kunci serta barometer kehidupan; dari padanya terpencar segala aspek kebaikan. Oleh karena itu, Allah menyatakan di beberapa ayat Al-Qur'an tentang sesuatu perbuatan baru mempunyai nilai atau kwalitas, jika pelaksanaannya dilandasi oleh iman. Sebaliknya, jika perbuatan itu dilandasi oleh unsur kekufuran maka perbuatan tersebut tidak mempunyai nilai bagaikan abu yang ditiup angin keras (lihat QS. 14: 18) atau bagaikan fatamorgana



“Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan di dapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. Al-Nur/24: 39).



2. Amal Saleh (Perbuatan atau karya nyata yang positif)

Amal saleh merupakan manisfestasi dari iman yang terpancar dari jiwa seseorang; atau dengan perkataan lain amal saleh merupakan buah dari iman. Imanlah yang mendinamisasikan perbuatan seseorang yang dimotifisir oleh semangat lillahi ta’ala. Di samping itu , iman berfungsi sebagai pengendali gerak perbuatan seseorang sesuai dengan aturan main yang ditetapkan oleh Allah SWT.



Sepanjang pengamatan penulis kata “amanu” sering berdampingan dengan kata “ ’amilu al-Shalihat”; hal ini memberikan isyarat bahwa iman tanpa disertai dengan amal, itu tidak akan bernilai apa-apa, dan sebaliknya, jika amal tanpa dilandasi oleh iman, maka amal tersebut tidak berdampak dan tidak bernilai di sisi Allah SWT.



Adapun jumlah ayat-ayat yang menjelaskan tentang iman dan amal dan selalu berdampingan di antara keduanya, berkisar sekitar 49 ayat, antara lain: (1). Al-Baqarah: 25, 82, 277; (2) Ali-Imran: 57. (3)Al-Nisa: 121, 172 (4) Al-Maidah: 10, 96; (5) Al-A’raf: 41; (6) Yunus: 4, 9; (7) Hud: 23; (8) Al-Ra’d: 21; (9) Ibrahim: 23; (10).
3. Saling Berwasiat dalam Kebenaran

Jika unsur yang pertama dan kedua terpencar dan dilaksanakan oleh masing-masing individu, maka unsur yang ketiga mengajarkan kepada setiap orang agar saling mengingatkan dan berpesan antar sesamanya dalam kebenaran. Saling isi-mengisi dan saling memberikan informasi dalam hal kebenaran itu tentunya disesuaikan dengan kondisi dan potensi yang ada pada masing-masing individu. Dengan cara ini akan terealisir rasa persatuan dan kesatuan serta semangat ukhuwah Islamiyah yang dilandasi oleh kebenaran.



Namun, proses untuk menuju jalan kebenaran itu tidaklah mudah, di sana banyak liku-liku yang mesti dilalui antara lain:

a. Kemampuan pengendalian diri dari masing-masing pihak bervariatif;

b. Kondisi lingkungan, terkadang kurang kondusif;

c. Adanya kesesatan dan kezaliman di masyarakat bersifat fluktuatif.

d. Pemerintah yang berkuasa terkadang adil dan kebanyakan zalim.
4. Saling berwasiat dalam kesabaran

Terwujudnya unsur kesatu, kedua dan ketiga sangat bergantung kepada kwalitas dan frekwensi ketabahan seseorang tersebut. Sebab, dalam kenyataannya banyak sekali ganjalan dan kendala menuju hidup sukses; baik yang berasal dari internal maupun yang datang dari eksternal. Apakah kendala itu berkait dengan masalah pribadi, atau berhubungan dengan problema masyarakat, bangsa dan negara; kesemuanya itu akan bisa dipecahkan jika dihadapi dengan penuh kesabaran dan ketabahan. Al-Qur'an telah menjelaskan secara umum bentuk-bentuk kendala dalam kehidupan. Misalnya: Firman Allah SWT QS. 2: 155, yang redaksinya: “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”.



Di samping itu, Allah akan menyediakan balasan yang setimpal kepada orang yang sabar, misalnya firman Allah:



“Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera” (QS. Al-Insan/76: 12)



Menurut penelitian penulis, minimal ada 81 ayat yang mendorong orang untuk bersabar. Akan tetapi, sabar dan kesabaran itu bukan berarti pasif dan statis; akan tetapi, sabar itu diartikan sebagai upaya terakhir dari seseorang, setelah yang bersangkutan berusaha maksimal sesuai dengan potensi dan kemampuan yang tersedia; kemudian ia berani tampil untuk mengambil resiko sebagai langkah pertanggungjawabannya kepada Allah SWT.


Penutup

Nampaknya, surat Al-‘Ashr yang terdiri dari tiga ayat yang singkat dan padat ini memberikan gambaran secara umum konsepsi kehidupan manusia yang pada umumnya berada dalam kerugian. Namun, pada akhirnya Allah SWT memberikan pandangan tentang manusia yang sukses, yaitu orang yang beriman dan mengaktualisasikannya dalam bentuk amal nyata; serta saling berwasiat di antara sesamanya dengan kebenaran dan ketabahan. Konsep inilah yang akan menjamin manusia sukses dunia dan akhirat.


Semoga Allah SWT selalu memberi kemampuan kepada kita semua agar tetap berada pada jalur manusia sukses di masa-masa mendatang, amin. Barakallahu li wa lakum, wallâhu a’lam.

Minggu, 17 Januari 2010

APA SAJA YANG DIKERJAKAN PARA PEMIMPIN KITA ?

Mohammad Safrudin 17 Januari jam 9:24
Beberapa bulan terakhir, lewat media massa kita dibuat sedih oleh berita-berita yang mengenaskan terkait dengan hukum. Beberapa kasus tentang pencurian yang dilakukan oleh orang-orang miskin, menjadi berita. Tidak habis pikir, orang tua miskin sebatas mencuri tiga biji kakau, diadili, dan dipenjara. Dua orang di Kediri mencuri semangka seharga dua puluh ribu, juga diperlakukan sama, dadili dan dihukum. Masih terkait orang miskin lagi, mencuri buah kapuk lalu diadili, dan dipenjara. Di Bojonegoro, pasanagan suami isteri mencuri setandan pisang, karena memang lapar, ditangkap, diadili dan dipenjara.

Mendengar berita-berita itu, seolah-olah di negeri ini hukum sudah sedemikian berhasil ditegakkan. Siapapun yang bersalah akan diadili dan dihukum sesuai dengan kesalahannya. Hukum tidak peduli terhadap siapapun. Sekalipun hanya mencuri tiga buah kakau, dua butir semangka, setandan pisang, dianggap salah dan diadili seadil-adilnya. Rasanya negeri ini telah berhasil dalam menegakkan hukum, dan menjadi negara yang sangat adil terhadap seluruh warga negaranya

Kesan seperti itu menjadi runtuh tatkala memperhatikan kasus-kasus hukum lainnya. Tidak sedikit pejabat menggelapkan uang milyaran rupiah hanya dihukum beberapa tahun. Pembobol bank tidak henti-henti melakukan aksinya, dan rakyatlah yang dirugikan. Calon pejabat baik di legislative dan atau eksekutif membagi-bagi uang agar dipilih. Padahal cara itu menjadi sebab terjadinya tindak korupsi yang berkepanjangan. Namun, anehnya gejala itu dibiarkan.

Mendengar berita orang miskin diadili di tengah-tengah para pejabat kaya yang korup, jelas mengusik rasa keadilan bagi semua. Pengadilan terhadap para pejabat yang menyeleweng, dan memasukkannya ke penjara, belum memuaskan rasa keadilan bagi semua orang. Apalagi, orang miskin yang diadili itu hanya melakukan kesalahan kecil, yaitu sebatas mempertahankan gerak napasnya agar tetap hidup. Orang biasanya berpikir logis dan linier, bahwa kemiskinan itu di antaranya, adalah disebabkan oleh penyelewengan pejabat pemerintah itu.

Kiranya bisa dipahami, adanya pihak-pihak yang merasa terganggu oleh perilaku orang miskin yang mencuri, sekalipun yang diambil barang sederhana. Mencuri sebesar apapun tidak boleh dilakukan oleh siapapun dan harus dilarang. Pemilik barang yang dicuri, sekalipun masih kelebihan, akan merasa jengkel atas ulah orang miskin itu. Semua orang tanpa terkecuali, orang miskin sekalipun, tidak boleh mencuri. Biasanya, orang tidak saja marah karena barangnya dicuri, tetapi ia tidak mau diganggu orang.

Hanya saja, tatkala mendengar orang miskin mencuri barang sesederhana dan sekecil itu, lalu diadili dan dimasukkan ke penjara, maka akan melahirkan kesan seolah-olah, dalam pengadilan itu ada sesuatu yang dibuat-buat. Pengadilan yang berkantor di gedung yang sedemikian kokoh dan hebat, lagi pula para pejabatnya berseragam dinas yang kelihatan berwibawa, ternyata hanya mengadili orang yang mencuri dua butir semangka, tiga buah kakau dan setandan pisang. Rasanya sangat trenyuh mendengar berita itu.

Dulu ketika saya masih bertempat tinggal desa, memang ada peristiwa kenakalan kecil-kecilan itu. Peristiwa itu biasanya diselesaikan oleh pamong desa, atau setinggi-tingginya oleh lurah. Kasus pencurian semacam itu, ------kalau ada, dilakukan bukan karena miskin dan lapar, tetapi biasanya karena kenakalan. Ada saja di desa orang yang berperilaku menyimpang, misalnya menyuri ayam, ketela pohon, buah nangka di kebun dan sejenisnya. Hasil curiannya bukan untuk dimakan, melainkian untuk berjudi atau membeli minuman keras untuk pista kecil-kecilan. Mencuri dengan motif seperti itu, pelakunya dihukum. Akan tetapi, pelaku pencurian yang semata-mata karena lapar, tidak dilakukan proses hukum. Sebab, apa gunanya menghukum orang miskin dan lagi lapar.

Oleh karena itu, tatkala mendengar berita-berita mengenaskan itu, yang terbayang adalah apakah di desa itu, di kecamatan itu, di kabupaten itu sudah tidak ada lagi pemimpin-pemimpinnya. Apakah tidak semestinya, tatkala terjadi kasus-kasus kelaparan seperti itu, para pemimpin menunjukkan kepeduliannya, baik itu pemimpin formal atau pemimpin informalnya. Mengapa di desa, kecamatan, atau kabupaten itu, seperti sudah tidak ada lagi orang yang peduli terhadap orang miskin. Mengapa orang miskin menjadi sendirian seperti itu. Bukankah para pemimpin seharusnya selalu hadir dan tampil, tatakala rakyat sedang kelaparan dan terkena masalah yang perlu ditolong.

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini selalu menggoda pikiran untuk mencari jawabnya. Rasanya tidak mungkin bangsa timur, lebih-lebih pada zaman yang seperti ini tidak ada lagi orang yang tidak memiliki kepedulian, rasa iba, kasih sayang, terhadap sesama. Ataukah di desa itu, kecamatan itu, kabupaten itu semua orang sudah miskin, sebagaimana di beberapa tempat lainnya semua orang sudah kaya, sehingga tidak mungkin lagi terjadi gotong royong, atau saling membantu.

Membaca berita tersebut, apalagi jika saya bandingkan dengan apa yang terjadi di kampus, ---------lingkungan kehidupan saya sehari-hari, kejadian itu terasa aneh. Sebab, sekalipun gaji para dosen dan karyawan setiap bulannya sangat terbatas, masih mau menyisihkan sebagiannya untuk berinfaq. Dana infaq ini selanjutnya digunakan untuk menolong para mahasiswa yang mengalami kesulitan membayar biaya kuliah seperti SPP dan lain-lain. Selain itu, jika misalnya ada mahasiswa yang kepepet, tidak memiliki uang, selalu masih ada pimpinan, dosen, atau karyawan yang mencarikan jalan keluar untuk mengatasinya. Pertanyaannya adalah, apakah di desa itu belum digalakkan zakat, infaq, dan shodaqoh untuk mengatasi kasus-kasus kelaparan seperti itu.

Membaca berita tersebut, saya terbayang, alangkah indahnya tatkala pencuri sebutir semangka itu, tiga buah kakau itu dan juga setandan pisang itu, sedang diadili maka kepala desa, camat, bupati atau wali kota ikut menyaksikan, melindungi, dan jika perlu membela dengan memberikan informasi sebenarnya. Syukur-syukur, kalau ikut berargumentasi dan menjelaskan, bahwa rakyatnya lagi lapar, dan semua sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Kemudian para pemimpin itu, menunjukkan ikut merasa salah dan kemudian memintakan maaf. Lebih-lebih, jika memang harus dihukum, ada kesanggupan para pemimpin itu mencarikan pekerjaan, setelah mereka menjalani hukumannya.

Pemimpin pada tingkat apapun dan di manapun dituntut selalu membela, melindungi, menolong, dan mencintai rakyatnya sepenuh hati. Sikap seperti itulah yang seharusnya diambil oleh para pemimpin rakyat. Karena itu, tatkala media massa mengekspose berita, adanya orang miskin mencuri barang yang tidak seberapa harganya, lalu diadili, dan dipenjara, namun tidak memberikan informasi sedikitpun, bagaimana respon para pemimpin desa, kecamatan, dan kabupaten itu, maka saya bertanya-tanya, sedang ke mana para pemimpinnya, sehingga rakyat kecil dan miskin tampak sendirian ? Wallahu a’lam.