Jumat, 18 Juni 2010

MEMILIH SEKOLAH YANG BERMUTU ATAU SEKEDAR GENGSI

Oleh : Moh. Safrudin,S.Ag, M.PdI
(Staf Pengajar STIK Avicenna Kendari Peneliti Sangia Institut)

Jumlah dan jenis lembaga pendidikan sekarang ini sudah sedemikian banyaknya. Dulu orang sulit mencari lembaga pendidikan, tetapi sekarang kesulitan itu berubah, yaitu tatkala harus memilih. Bagi orang-orang tertentu memilih lembaga pendidikan, biasanya mencari yang bermutu atau berkualitas unggul.
Namun ukuran keunggulan atau kualitas ternyata berbeda-beda. Sementara orang menyebut lembaga pendidikan itu unggul, manakala semua siswanya pada setiap tahun lulus ujian nasional, atau lulusannya bisa diterima di lembaga pendidikan jenjang berikutnya yang dianggap maju. Sedangkan untuk tingkat perguruan tinggi, sementara orang memilih lembaga yang lulusannya cepat mendapatkan pekerjaan.
Sebatas memilih lembaga pendidikan ternyata juga tidak mudah. Bahkan masing-masing orang memiliki ukuran-ukuran tersendiri. Sementara orang, kualitas hanya dilihat dari penampilan gedung dan fasilitas pendidikannya. Selainnya, ada yang memperhatikan misi yang diemban oleh lembaga pendidikan yang bersangkutan. Misalnya, seorang pengikut fanatik organisasi keagamaan tertentu, maka akan mengirim anak-anaknya ke lembaga pendidikan yang dikelola oleh organisasi tersebut.
Berbeda dengan gambaran tersebut di muka, ada juga orang yang memilihkan lembaga pendidikan bagi anak-anaknya dengan ukuran-ukuran tertentu lainnya, yang sangat berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Misalnya, sekalipun banyak orang membanggakan dan memilih lembaga pendidikan modern di kota, ternyata juga banyak orang yang justru memilih pesantren yang berada jauh di pedesaan.
Mereka yang memilih lembaga pendidikan pesantren tersebut, ternyata tidak selalu orang yang tidak berpendidikan dan memiliki tingkat ekonomi lemah. Oleh karena itu di beberapa pesantren tertentu, bisa kita temukan putra-putri orang-orang yang berpendidikan tinggi dan berekonomi cukup. Mereka sangat mampu menyekolahkan anaknya di sekolah modern dan mahal, tetapi justru mengirim putra putrinya ke pesantren sederhana di pedesaan.
Keputusan yang diambil oleh mereka itu ternyata cukup mendasar. Mereka tahu bahwa pendidikan pesantren tidak menjanjikkan lapangan kerja bagi lulusannya, tetapi tetap menjadi pilihannya. Mereka berkeyakinan bahwa pendidikan pesantren akan memberikan bekal kehidupan yang justru sangat diperlukan kelak, ialah akhlak yang mulia. Mereka berpandangan bahwa, seseorang yang berilmu tinggi, tetapi tidak menyandang akhlak yang terpuji, justru akan membahayakan hidupnya.
Mereka melihat kenyataan, bahwa tidak sedikit orang telah melewati lembaga pendidikan yang dianggap berkualitas atau unggul, dan segera mendapatkan lapangan pekerjaan serta gaji yang membanggakan. Tetapi ternyata, belum terlalu lama mereka bekerja di tempat itu, sudah berpekara, dituduh korupsi, dan akhirnya masuk penjara. Kenyataan itu kemudian disimpulkan bahwa, —–bisa jadi, lembaga pendidikan yang dianggap berkualitas dan unggul itu, hanya mengantarkan lulusannya ke lembaga pemasyarakatan.
Kenyataan-kenyataan seperti itu, menjadikan semakin tidak mudah memilih lembaga pendidikan yang dianggap baik. Pilihan yang tepat, —–jika ada dan terjangkau, memang adalah lembaga pendidikan yang memiliki berbagai keunggulan sekaligus. Yaitu lembaga pendidikan yang mampu mengantarkan para siswanya menjadi orang menyandang kesalehan secara sempurna, yaitu saleh intelektualnya, saleh kepribadiannya, saleh sosialnya, saleh ritualnya, dan juga saleh keahlian atau profesionalnya.
Namun pada kenyataanya, mencari lembaga pendidikan yang sempurna seperti itu, sekalipun jumlah lembaga pendidikan sudah terlalu banyak, ternyata juga tidak mudah. Selama ini keunggulan yang ditawarkan baru masih sangat sederhana, misalnya hanya dari kelengkapan fasilitas yang tersedia, tingkat kelulusan, dan kemudahan mendapatkan pekerjaan bagi lulusannya. Selama ini, rupanya masih sulit mencari lembaga pendidikan yang berani menjanjikan hasil lulusannya akan memiliki kelebihan secara sempurna, yaitu termasuk unggul akhlak atau kepribadiannya
Terkait dengan persoalan memilih sekolah ini, dulu saya pernah mendapatkan pesan dari orang tua tentang kriteria sekolah yang baik. Disarankan agar memilih sekolah, yang memiliki guru-guru yang baik. Bersekolah itu sama artinya dengan belajar atau berguru. Agar berhasil, maka bergurulah kepada orang yang mencintai ilmu dan sekaligus mengamalkannya. Selanjutnya, untuk mengetahui apakah guru tersebut telah mengamalkan ilmunya, maka saya dipesan agar melihat apakah guru-guru sekolah tersebut, selalu hadir di masjid ketika sholat berjama’ah.
Pesan tersebut sederhana sekali, tetapi sesungguhnya amat mendasar. Agar menjadi orang pintar dan sekaligus baik, maka harus berguru kepada orang pintar dan sekaligus mampu mengamalkan ilmunya. Kualitas pendidikan selalu terletak pada guru. Disebut sebagai guru berkualitas, di antaranya mereka sanggup mengamalkan ilmunya, hingga pada hal yang dianggap sederhana, misalnya bagaimana sholat subuhnya, apakah berjama’ah di masjid, atau justru selalu terlambat. Saya pernah dipesan, jangan berguru kepada orang yang sholatnya saja tidak tertib, dengan alasan guru tersebut sesungguhnya tidak bermutu. Wallahu a’lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar