Kamis, 17 Juni 2010

PENYAKIT HATI DAN OBATNYA DALAM ALQUR'AN

Oleh : Moh. Safrudin, S.Ag, M.PdI
(Dosen STIK Avicenna Kendari Peneliti Sangia Institut)
mengawali tulisan saya tentang penyakit hati, saya mengutip salah satu surat dalam alqur’an yakni surat al-Hujarat ayat 12 Allah berfirman: “Hai orang yang beriman, jauhilah olehmu sekalian dari banyak buruk sangka, karena sesungguhnya buruk sangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu sekalian mencari aib atau kesalahan orang dan jangan pula berghibah (membicarakan aib) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain. Apakah di antara kamu ada yang suka makan daging saudaranya dalam keadaan sudah mati (bangkai), maka kamu sendiri tidak menyukainya? Dan takutlah kamu sekalian kepada Allah; sesungguhnya Alah itu maha menerima tubat lagi maha kasih sayang.
Dalam kutipan ayat di atas setidaknya ada tiga penyakit hati yang harus dijauhi oleh orang yang beriman. Pertama, berburuk sangka. Berburuk sangka artinya menduga-duga atau menuduh orang lain berbuat sesuatu kesalahan, yang belum tentu orang tersebut melakukan kesalahan. Berburuk sangka terhadap orang lain tanpa didukung oeh bukti atau saksi, sangat dilarang oleh agama, karena akibat yang ditimbulkannya sangat dahsyat sekali terhadap orang yang belum tentu bersalah. Kalau dugaan itu salah, bisa menimbulkan fitnah terhadap seseorang, sementara dosa fitnah sebanding dengan membunuh orang. Oleh karena Allah swt melarang orang yang beriman berburuk sangka terhadap saudaranya.
Kedua, mencari-cari kesalahan orang lain. Apabila buruk sangka terus bergejolak pada hati seseorang, malahan sudah berkeyakinan orang tersebut melakukan kesalahan, maka orang-orang yang ditimpa penyakit hati ini akan mencari-cari kesalahan orang lain. Kadang-kadang menghubung-hubungkan suatu peristiwa atau kejadian dengan kelakuan orang lain, yang sebenarnya tidak ada hubungan sama sekali. Orang yang terkena penyakit hati ini, tidak bisa lagi berfikir positif mengunakan akal sehat, tidak bisa lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah, yang ada dalam hatinya adalah kebencian. Semua yang dilakukan orang selalu dinilai salah.
Ketiga, ghibah (membicarakan aib orang lain). Ghibah dalam bahasa sehari-hari dikenal dengan mengunjing, yaitu membicarakan aib orang lain, yang orang lain itu tidak senang aibnya itu dibicarakan. Dalam hadist Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, yang terjemahannya
“Ghibah itu lebih /besar dosanya dari berbuat zina”. Sahabat bertanya, “Mengapa bisa demikian wahai Rasulullah?”. Nabi menjawab, “Orang laki-laki yang melacur kemudian bertobat, maka Allah akan memberi ampunan kepadanya. Adapun orang yang berghibah tidak akan diampuni dosanya kecuali temannya (orang yang berghibah) memaafkannya lebih dahulu.”
Orang yang melakukan buruksangka, mencari kesalahan orang lain, dan melakukan ghibah terhadap saudaranya yang seiman, pada hal apa yang diduga-duganya belum tentu benar, maka sebenarnya dia sudah melakukan dosa besar. Allah menyamakan orang yang berperilaku demikian seperti memakan bangkai saudaranya yang telah mati. Siapa pun tentu akan merasak jijik memakan bangkai.
Dalam kehidupan sehari-hari ketiga penyakit hati ini sudah semakin parah di masyarakat. Penyakit ini bisa menimpa siapa saja dan kapan saja, sadar atau tidak sadar, sengaja atau tidak sengaja termasuk orang yang beriman. Karena penyakit ini adalah penyakit hati, sehingga kehadiran dan gejalanya tidak bisa dirasakan oleh orang yang bersangkutan, termasuk oleh dokter sekali pun.
Malahan sebagian program-program televisi swasta berpacu menjadikan ghibah sebagai program unggulan, yang dibungkus dengan berbagai nama yang pada dasasnya adalah ghibah. Simak saja acara-acara semisal KISS, Spot, Kasak-Kusuk, Silet, dan lain-lain yang jam tayangnya di pagi hari atau sore hari, disaat orang-orang lagi berkumpul atau beristirahat. Malahan mungkin jamaah program-program televisi ini bisa mengalahkan jamaah sholat magrib, majelis taklim, atau sholat jum`at. Bisa jadi, akibat acara ini seseorang bisa tertunda sholat atau pekerjaannya.
Akibat Penyakit Hati.
Kita sudah bisa melihat dan merasakan orang yang terinfeksi penyakit hati sudah jelas jauh dari manusia dan juga dari Allah. Penyakit hati bukan hanya merugikan diri sendiri, tetapi jelas merugikan orang lain dan dimurkai oleh Allah.
Minimal ada tiga akibat yang ditimbulkan oleh orang yang mempunyai penyakit hati. Pertama, kerugian terhadap diri sendiri. Orang yang terkena virus penyakit hati, jelas tidak akan pernah merasakan ketenangan dan kenikmatan dalam hidup,walau pun jabatan dan hartanya berlimpah, tetapi harta dan jabatan tersebut tidak akan pernah mendatangkan berkah dan manfaat baginya, karena kerja sibuk dengan mencar-cari dan memikirkan kesalahan orang lain, yang tidak mempunyai kesudahan Hadist Nabi dari Ali ibn Thalib, berbunyi, “Jauhilah olehmu sekalian dari ghibah, karena sesudngguhnya di dalam ghibah itu terdapat tiga bencana, yaitu: 1) do`anya tidak dikabulkan, 2) kebaikannya tidak diterima, 3) kejelekannya akan bertambah”.
Kedua, kerugian terhadap masyarakat. Kelompok masyarakat mana pun tentunya tidak akan suka bergaul, bertetangga dan berteman dengan orang yang terkena penyakit hati, kecuali masyarakat yang sama-sama terindikasi mengindap penyakit hati. Hanya orang-orang yang sama-sama satu penyakit saja yang mau bergaul.
Ketiga, mengundang murka Allah. Hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Alauddin ibn al-Harits yang artinya: “Orang-orang yang mengupat, orang-orang yang mencela, dan orang-orang yang menghendaki adu domba serta orang-orang yang aniaya terhadap orang-orang yang tidak bersalah, makapada hari qiamat mereka semua akan digiring Allah dalam bentuk wajah-wajah anjing”.
Obat Penyakit Hati
Orang-orang yang terlanjur mengidap virus penyakit hati, kalau ingin sembuh satu-satunya jalan adalah bertobat, sebagaimana yang dijelaskan pada ujung ayat 12 surat al-Hujarat di atas. Penyakit hati tidak bisa terdeteksi oleh dokter spesialis, obatnya pun tidak ada yang menjual. Hanya dengan kesadaran orang yang bersangkutan penyakit hatinya bisa sembuh. Minimal ada tiga cara yang dilakukan oleh orang yang terindikasi virus penyakit hati.
Pertama, bertaubat kepada Allah SWT. Bertekad tidak melakukan kesalahan-kesalahan dan mengganti semua kesalahana dengan banyak beribadah, memperbaiki silaturahmi kepada orang-orang yang telah dizalimi.
Kedua, meminta nasehat. Seseorang yang terkena penyakit hati, bisa diketahui oleh orang lain, seperti teman dan keluarganya. Kita harus siap menerima masukan nasehat, kritikan dan saran dari orang-orang yang memberikan masukan. Kalau bisa mendatangi para ulama atau Ustad untuk meminta nasehatnya
Ketiga, menuntut ilmu. Penyakit hati banyak disebabkan oleh kurangnya ilmu dan ibadah yang bersangkutan. Jalan yang terbaik bagi orang yang terkena penyakit hati adalah terus menerus menuntut ilmu dan melakukan ibadah kepada Allah SWT, sehingga tidak ada waktu yang terluang tanpa nilai ibadah, dan kita disibukkkan dengan dengan mengoreksi aib kita sehinggga tidak sempat lagi mengoreksi aib orang lain dan terus-menerus mengingat-ingata dosa kita serta melupakan kebaikan yang pernah dilakukan wallahu ‘alam bissawab

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar