Kamis, 08 April 2010

MANUSIA SRAKAH

Orang yang selalu merasa berkurangan padahal nyatanya sudah berkelebihan, biasa disebut dengan istilah serakah atau tamak. Orang serakah biasanya menginginkan agar dirinya memiliki sesuatu paling banyak. Keinginannya itu tidak pernah berhenti. Apa yang sudah dimiliki, sekalipun sudah terlalu banyak, masih selalu dirasa kurang, dan karena itu masih ingin berusaha menambahnya.

Dua istilah yang agak mirip tetapi sebenarnya maknanya berbeda, yaitu kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan hidup setiap orang sesungguhnya tidak banyak. Sekedar iseng, saya pernah menghitung kebutuhan konsumsi beras bagi setiap orang seumur hidup. Jika seorang makan setiap hari secara normal, setiap 10 tahun hanya memerlukan beras sebanyak satu ton. Sehingga, andaikan seseorang diberi karunia umur 70 tahun, maka paling hanya memerlukan beras 7 ton saja. Padahal, satu hektar sawah, jika subur dan dipupuk dengan baik, satu kali tanam bisa menghasilkan beras sebanyak itu.

Kebutuhan beras tersebut jika dijabarkan lebih rinci adalah sebagai berikut. Bahwa satu kilo gram beras jika dimasak, dengan hitungan normal bisa menjadi 12 piring nasi. Sebulan atau 30 hari jika makan tiga kali sehari, seseorang hanya membutuhkan nasi 90 piring. Artinya, sebulan seseorang hanya membutuhkan beras 7,5 kg saja. Maka, jika dikalkulasi, rata-rata satu tahun seseorang hanya membutuhkan satu kuintal beras itu. Sedikit kaan ?

Sehubungan dengan itu, saya pernah menghitung, ------masih sebatas iseng saja, seseorang yang berpuasa pada bulan ramadhan, karena pada saat siang hari tidak makan, maka sebulan bisa menghemat beras 2,5 kg. Beras yang tidak dimakan karena berpuasa itu ternyata sama jumlahnya dengan kewajiban zakat fitrah yang harus dibayar, yaitu 2,5 kg. Hitungan itu apa benar demikian, saya juga belum bisa memastikan. Tetapi setidak-tidaknya, orang berpuasa di bulan Ramadhan, dengan hitungan tersebut, pasti mampu membayar zakat fitrah.

Selanjutnya, berbeda dengan kebutuhan yang sangat sedikit itu, manusia masih selalu berusaha memenuhi keinginannya. Keinginan bagi setiap orang tidak terbatas. Sekalipun kebutuhan beras sehari-hari sangat sedikit, orang selalu berusaha mencari sebanyak-banyaknya. Mereka menanam padi berhektar-hektar, masih ditambah dengan kebun kelapa, sawit, cengkih, tebu, dan apa saja yang jumlahnya ----kalau bisa, tidak terbatas. Selain itu anehnya, sekalipun sudah sedemikian banyak penghasilannya, mereka tidak pernah merasa cukup.

Sekalipun kekayaannya sudah sedemikian besar, orang masih saja berusaha menambahnya lagi dengan berbagai usaha, misalnya berternak berbagai jenis binatang, ada sapi, kerbau, kambing, kucing, anjing, dan bahkan ular ataupun buaya dipelihara. Dengan begitu, ia bangga atas kepemilikannya itu. Padahal apakah semua kekayaannya itu akan dikunsumsi. Jawabnya, tentui juga tidak. Bagi mereka yang penting adalah berhasil merasa memiliki sebanyak-banyaknya. Itulah yang disebut sebagai orang serakah atau tamak.

Kadang sedemikian banyak jumlah kekayaan seseorang, yang jika dibanding dengan kebutuhannya sudah jauh berlebihan. Akan tetapi, kekayaan itu untuk memenuhi keinginannya, ----karena sifat serakah, dirasa belum mencukupi. Apa yang diinginkan masih jauh lebih banyak dari yang dimiliki. Sekalipun rumahnya sudah banyak, pabriknya ada di mana-mana, belum lagi usaha-usaha lainnya, dirasa masih kurang banyak lagi. Lagi-lagi, itu terjadi karena sifat serakah yang ada padanya.

Gambaran seperti itu menunjukkan bahwa keinginan memang tidak ada batasnya. Jika nafsu itu tidak bisa dikendalikan, maka berapapun harta yang ada, tidak akan mencukupi. Sifat itu tidak saja menjadikan yang bersangkutan menderita, ---------yaitu menderita selalu berkekurangan, tetapi juga berakibat buruk terhadap orang lain. Perluasan usahanya itu, tidak jarang berakibat mempersempit dan bahkan mematikan usaha orang. Ekonomi orang kecil menjadi mati dan atau setidak-tidaknya sulit dan kalah bersaing.

Orang serakah atau tamak dengan berbagai kadarnya selalu ada di mana-mana. Islam mengingatkan, jangan menjadi orang serakah atau tamak. Terlalu mencintai harta disebut sebagai hubbul mal, dan hal itu adalah termasuk bagian dari akhlak buruk yang seharusnya dijauhi. Seseorang boleh-boleh saja mencari rizki, tetapi usaha itu tidak selayaknya dilakukan hingga keterlaluan, sampai pantas disebut sebagai orang serakah atau tamak, sehingga berakibat lupa mengingat Allah.

Orang serakah atau tamak membahayakan orang lain. Negeri yang kaya sumber alam sekalipun, seperti negeri kita ini, ternyata rakyatnya masih banyak yang miskin, hanya karena disebabkan oleh banyaknya orang serakah atau tamak itu. Mereka terlalu mencintai harta, dan selalu berusaha memenuhi keinginannya, tanpa peduli dengan sesamanya yang miskin. Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar